Narasi efisiensi yang digaungkan pemerintah pun mulai kehilangan gaungnya di telinga rakyat. Sebab dalam realitasnya, yang dirasakan warga bukan perbaikan ekonomi, melainkan hilangnya subsidi gas, langkanya akses bantuan pangan, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Sementara itu, kelompok elite tetap nyaman di dalam ekosistem yang terlindungi oleh jaringan bisnis dan politik.
Saatnya negara meninjau kembali pendekatan fiskalnya. Efisiensi anggaran seharusnya tidak berarti pemotongan buta, melainkan optimalisasi dan realokasi yang adil. Jika memang ingin menjaga stabilitas jangka panjang, negara wajib memastikan bahwa proses penghematan tidak mengorbankan kelompok paling lemah.
Karena pada akhirnya, krisis ekonomi yang dirasakan di dapur rakyat bukan hanya soal nasi dan lauk. Ia adalah cermin dari kebijakan fiskal yang gagal menjangkau ke bawah. Dan jika itu terus dibiarkan, maka bukan hanya dapur rakyat yang hancur, tapi juga kepercayaan publik terhadap negara.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










