ANAMBASKABAR PERBATASANNASIONALPEMBANGUNAN DAERAHPENDIDIKANRAGAM PERBATASANSUARA RAKYAT

Pelabuhan Rapuh, Langkah Siswa Terancam

×

Pelabuhan Rapuh, Langkah Siswa Terancam

Sebarkan artikel ini

”Di balik semangat anak-anak pesisir menuntut ilmu, terdapat infrastruktur rapuh yang setiap hari mengancam keselamatan mereka menuju sekolah.”

 

ANAMBAS – Redaksi Koran Perbatasan merasakan langsung keprihatinan mendalam saat meninjau pelabuhan yang berada di lingkungan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Siantan Utara, Sabtu (17/1/2026). Pelabuhan yang menjadi akses utama para siswa itu tampak rusak parah, memunculkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan anak-anak sekolah yang setiap hari melintasinya.

Pelabuhan tersebut telah berdiri sejak tahun 2007 dan selama hampir dua dekade menjadi nadi utama mobilitas para siswa dari berbagai pulau menuju sekolah. Anak-anak dari Desa Bayat, Mubur Kecil, Nuan, hingga Teluk Durian setiap pagi dan siang bergantung pada transportasi laut menggunakan pompong untuk menimba ilmu di SMPN 2 Siantan Utara.

Namun, usia pelabuhan yang kian menua kini menyisakan persoalan serius. Lantai semen yang rapuh, permukaan yang tidak lagi rata, serta tiang penyangga yang sebagian telah patah, membuat aktivitas naik dan turun siswa menjadi sangat berisiko.

Tokoh Pemuda Siantan Utara, Ridwan, yang ditemui langsung di lokasi, menyebutkan bahwa pelabuhan ini sejak awal memang dibangun khusus untuk bongkar muat anak-anak sekolah.

“Pelabuhan ini merupakan pelabuhan utama bagi siswa yang datang dari pulau untuk pergi ke sekolah dan menuntut ilmu demi menggapai cita-citanya. Namun kini, lantai semen sudah rapuh dimakan usia, tiang penyangga ada yang patah, dan permukaan lantainya tidak lagi rata. Kondisi ini membuat aktivitas anak-anak sangat berisiko, tetapi hingga sekarang masih luput dari perhatian pemerintah,” ungkap Ridwan dengan nada prihatin.

Ia menambahkan, setiap hari para siswa harus melangkah dengan penuh kehati-hatian. Kesalahan kecil saja dapat berujung pada kecelakaan yang membahayakan keselamatan mereka.

Baca Juga:  Safari Ramadan Aneng Jemaja Timur Khidmat

“Bagi anak-anak ini, berangkat sekolah bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi perjuangan harian yang penuh risiko. Mereka sudah menempuh perjalanan laut menggunakan pompong, lalu harus berhadapan dengan kondisi pelabuhan yang sangat memprihatinkan. Pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan perjalanan yang mengancam keselamatan jiwa,” ujarnya.

Menurut Ridwan, keluhan serupa juga datang dari pihak sekolah dan masyarakat setempat. Bahkan, proposal permohonan perbaikan pelabuhan telah disampaikan kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Anambas, namun hingga kini belum mendapat respons.

“Masyarakat dan pihak sekolah berharap Pemerintah Daerah Kepulauan Anambas segera turun tangan. Pembangunan ulang pelabuhan dengan fasilitas yang layak dan aman menjadi kebutuhan mendesak demi menjamin keselamatan anak-anak sekolah sebagai generasi penerus bangsa,” kata Ridwan menyampaikan aspirasi warga.

Kondisi pelabuhan ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan tidak hanya soal gedung sekolah, tetapi juga akses aman menuju ruang belajar. Pelabuhan tersebut bukan sekadar struktur beton di tepi laut, melainkan pintu masa depan bagi anak-anak pesisir.

Sudah saatnya suara mereka didengar. Jangan biarkan langkah kecil menuju sekolah terhenti oleh fasilitas yang rapuh dan terabaikan. (KP).


Laporan : Azmi


 

📊 Views: 50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *