OPINIPENDIDIKAN

Viral Lagu Indonesia Timur di Kancah Nasional dalam Perspektif Teori Agenda Setting

×

Viral Lagu Indonesia Timur di Kancah Nasional dalam Perspektif Teori Agenda Setting

Sebarkan artikel ini

DALAM beberapa tahun terakhir, lagu-lagu Indonesia Timur mengalami lonjakan popularitas yang signifikan hingga menembus kancah nasional. Lagu seperti Tabola Bale, Ngapain Repot, Stecu Stecu, dan Tormonitor Ketua tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga menjadi konsumsi musik arus utama masyarakat Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa musik daerah kini memiliki ruang yang semakin luas dalam industri musik nasional.

Pengakuan terhadap musik Indonesia Timur juga terlihat dari prestasi para musisinya di AMI Awards 2025. Beberapa musisi seperti Silet Open Up, Jacson Seran, Diva Aurel, Juan Reza, serta Ecko Show berhasil meraih penghargaan bergengsi. Lagu Tabola Bale bahkan memenangkan kategori Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik. Capaian ini menandai era keemasan musik Timur yang tidak lagi dipandang sebagai produk lokal semata, melainkan sebagai fenomena nasional yang memiliki kualitas dan daya saing.

Musisi seperti Ecko Show dan Silet Open Up menjadi representasi semangat “Terbit dari Timur” yang menghadirkan warna baru dalam industri musik Indonesia. Lirik yang jujur, ritme yang enerjik, serta identitas budaya yang kuat membuat musik Indonesia Timur mudah diterima lintas generasi. Keberhasilan ini sekaligus membuka jalan bagi musisi daerah lain untuk mendapatkan pengakuan yang sama di tingkat nasional.

Fenomena viralnya lagu Indonesia Timur tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Spotify. Lagu-lagu yang sebelumnya hanya populer di wilayah tertentu kini dapat didengar oleh publik secara luas. Tidak hanya dinikmati sebagai audio, lagu-lagu tersebut juga digunakan sebagai backsound konten dan tren dance, sehingga mendorong munculnya fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan pengguna media sosial.

Menariknya, fenomena ini tidak hanya melibatkan masyarakat umum. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bahkan mengundang Silet Open Up untuk membawakan lagu Tabola Bale dalam pergelaran 17 Agustus 2025 di Istana Negara. Hal ini menunjukkan bahwa lagu Indonesia Timur telah menembus batas sosial dan simbolik, dari ruang digital hingga ruang kenegaraan.

Baca Juga:  Wali Kota Lantik Kepengurusan Forum Anak Kota Tanjungpinang Periode 2020-2022

Popularitas lagu-lagu Indonesia Timur dapat dilihat dari capaian lintas platform berikut:

Lagu YouTube TikTok Spotify
Tabola Bale 386.444.851 7,2 M 221.597.514
Ngapain Repot 102.143.839 931,5 K 123.380.400
Stecu Stecu 183.272.154 943,2 K 137.930.680
Tormonitor Ketua 82.334.765 2,3 M 44.960.616

Data tersebut menunjukkan bahwa media dgital secara konsisten memberi ruang besar bagi lagu-lagu Indonesia Timur. Tingginya jumlah penonton, penggunaan sound, dan pendengar memperlihatkan bagaimana media mengetahui isu apa yang layak ditampilkan dan diperkuat di ruang publik.

Fenomena ini dapat dianalisis melalui Teori Agenda Setting, yang menjelaskan bahwa media massa memiliki kemampuan untuk memengaruhi publik dengan menentukan isu mana yang dianggap penting. Media tidak hanya memberi tahu masyarakat apa yang terjadi, tetapi juga apa yang perlu dipikirkan dan diperbincangkan. Ketika suatu isu mendapat paparan tinggi dan berulang, publik akan menganggap isu tersebut sebagai sesuatu yang penting.

Viralnya lagu Indonesia Timur menunjukkan bahwa intensitas dan frekuensi paparan media membentuk persepsi publik mengenai nilai dan kepentingan musik tersebut. TikTok, dengan sistem viral dan partisipatifnya, mendorong lagu-lagu Timur digunakan secara masif oleh pengguna dan influencer. Sementara itu, algoritma YouTube dan Spotify secara tidak langsung memperkuat eksposur dengan terus merekomendasikan konten serupa kepada pengguna.

Dengan demikian, media secara kolektif telah menempatkan lagu Indonesia Timur sebagai agenda utama dalam ruang publik. Musik Timur tidak lagi sekadar tren sesaat, melainkan hasil dari proses agenda setting media yang membentuk selera, percakapan, dan preferensi masyarakat. Fenomena ini membuktikan bahwa kekuatan media tidak hanya mengangkat isu politik atau sosial, tetapi juga mampu mengubah peta budaya dan industri musik nasional.


Oleh : Ikbal Umacina

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi – UDINUS

Baca Juga:  Kapolsek Pulau Laut Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan di SMA Negeri 1

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *