“Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna menggabungkan sistem pendidikan agama dan teknologi melalui pelaksanaan ujian kitab, tahfiz, serta ujian digital berbasis aplikasi.”
Panitia Ujian Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna, Mazdudin Alrifai, S.Pd., menjelaskan pelaksanaan Ujian Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 tidak hanya mengukur kemampuan akademik santri, tetapi juga pemahaman agama melalui ujian kitab dan tahfiz secara lisan.
NATUNA – Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan ciri khas pendidikan pesantren.
Dalam pelaksanaan Ujian Semester Genap tahun ini, para santri tidak hanya mengikuti ujian mata pelajaran umum, tetapi juga menjalani ujian kitab dan tahfiz yang menjadi bagian penting dalam proses evaluasi pembelajaran.
Panitia Ujian Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna, Mazdudin Alrifai, S.Pd., mengatakan sebelum memasuki ujian sekolah, para santri terlebih dahulu mengikuti ujian khusus pesantren selama satu minggu.
“Sebelumnya sudah ada beberapa minggu yang lalu, diawali dengan ujian kitab dan ujian tahfiz selama satu minggu, kemudian dilanjutkan dengan ujian sekolah selama satu minggu juga,” ujar Mazdudin kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di lingkungan pondok, Rabu (3/6/2026).
Mazdudin menjelaskan, ujian berbasis pesantren memiliki mekanisme berbeda dibandingkan sekolah umum. Ujian kitab dan tahfiz dilakukan secara lisan dengan sistem yang menyerupai sidang munaqosah.
Menurutnya, metode tersebut bertujuan menguji langsung kemampuan pemahaman dan penguasaan materi santri.
“Kalau ujian pesantren itu ada ujian kitab dan ujian tahfiz yang dilakukan secara lisan. Mekanismenya seperti ujian munaqosah atau sidang skripsi pada umumnya,” jelasnya.
Untuk ujian kitab, terdapat lima kitab yang diuji sesuai tingkatan kelas dan masing-masing dibimbing oleh ustaz pengampu.
“Ujian pondoknya itu ada lima kitab yang diuji dan diampu oleh masing-masing ustaz. Begitu juga tahfiz, semuanya diuji secara lisan,” tambahnya.
Berbeda dengan sistem lama berbasis kertas, Ponpes Nurul Jannah Natuna saat ini telah menerapkan ujian sekolah menggunakan sistem digital berbasis aplikasi atau Computer Based Test (CBT).
Guru terlebih dahulu membuat soal menggunakan komputer, kemudian soal tersebut dikirim kepada panitia untuk dimasukkan ke aplikasi ujian.
“Guru membuat soal lewat komputer, setelah itu dikirim ke panitia dan dimasukkan ke aplikasi khusus,” ungkapnya.
Meski berbasis digital, pihak pesantren tidak mewajibkan seluruh santri memiliki laptop pribadi. Santri diperbolehkan menggunakan smartphone dengan izin orang tua.
Bagi santri yang tidak memiliki perangkat, pihak pesantren menyediakan fasilitas laptop milik sekolah maupun perangkat pendukung dari guru.
“Kami tidak mewajibkan memakai laptop. Santri diperbolehkan membawa HP dari rumah kalau memang orang tua mengizinkan. Kalau tidak ada, kami menyediakan laptop sekolah,” katanya.
Mazdudin mengatakan, pelaksanaan ujian berlangsung mulai Minggu hingga Rabu karena sistem libur pesantren berbeda dengan sekolah umum. Dalam satu hari, para santri mengikuti tiga mata pelajaran.
“Kami mengambil libur satu minggu itu dua kali, yaitu Jumat dan Sabtu. Jadi hari aktif ujian dimulai hari Minggu, berbeda dengan sekolah luar yang aktif Senin,” jelasnya.
Selama pelaksanaan ujian, suasana pesantren terlihat lebih tenang karena para santri lebih fokus mempersiapkan diri.
Bahkan, menurut Mazdudin, semangat belajar santri mengalami peningkatan dibandingkan hari biasa.
“Suasana di pondok saat ujian memang lebih sunyi dan rapi. Mereka fokus belajar, bukan bermain,” ungkapnya.
“Kalau biasanya tidur jam 10 malam, saat ujian bisa sampai jam 12 malam untuk belajar bersama teman-temannya, baik di ruang kelas, sekitar mushola maupun lingkungan asrama,” tambahnya.
Terkait aturan kenaikan kelas, Mazdudin menyampaikan pihak pesantren tetap mengikuti ketentuan pemerintah. Namun, pesantren juga memberikan pembinaan agar santri tetap memiliki tanggung jawab terhadap proses belajar.
Menurutnya, bagi santri yang belum memenuhi standar tertentu, pesantren menerapkan sistem naik kelas bersyarat dengan tugas pembinaan melalui wali kelas atau guru mata pelajaran.
“Kami tetap mengikuti edaran pemerintah pusat, tapi kami tidak ingin anak-anak berpikir hanya bangun tidur, berangkat sekolah, lalu pasti naik kelas. Tidak sesederhana itu,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut bukan sekadar memberikan hukuman, tetapi menjadi bentuk pembinaan agar santri memahami pentingnya usaha dan tanggung jawab.
“Kami memberikan punishment, tapi tetap memberikan solusi. Mereka tetap naik kelas, tetapi ada tanggungan yang harus diselesaikan melalui wali kelas atau guru mapel masing-masing,” jelasnya.
Mazdudin berharap sistem pendidikan pesantren mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang kuat.
“Yang jelas kami lebih menekankan pendidikan kepada akhlak. Harapan saya, kita semua terus menjaga dan membentuk akhlak anak-anak,” harapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru yang telah bekerja keras membimbing santri dan mempersiapkan seluruh rangkaian ujian.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada guru-guru. Kita harus sabar menghadapi siswa karena setiap anak memiliki karakter berbeda,” ujarnya.
“Ujian ini bukan akhir dari segalanya. Jangan pernah merasa puas dengan hasil sekarang, tetapi harus terus ditingkatkan,” tutupnya. (KP).
Laporan: Dini










