“Tradisi Sembahyang Duan Yang masyarakat Tionghoa Kabupaten Natuna menjadi momentum memperkuat nilai spiritual, menjaga lingkungan, serta mempererat kebersamaan tanpa membedakan suku, agama, dan ras.”
NATUNA — Pemuka Agama Khonghucu Natuna, Budi Setyawan, S.Pd., menjelaskan bahwa perayaan Sembahyang Duan Yang atau Duan Wu Jie yang dilaksanakan masyarakat Tionghoa di Pantai Tanjung bukan sekadar tradisi budaya, tetapi merupakan salah satu sembahyang besar dalam ajaran Khonghucu.
Budi mengatakan, masih banyak masyarakat yang mengenal perayaan tersebut dengan sebutan Sembahyang Bacang. Namun menurutnya, penyebutan tersebut kurang tepat karena bakcang merupakan bagian dari tradisi pengiring, bukan inti dari pelaksanaan ibadah tersebut.
“Namanya sebenarnya saya luruskan, bukan Sembahyang Bacang. Orang sudah terlanjur tahunya bakcang, padahal nama sebenarnya adalah Sembahyang Duan Yang atau Duan Wu Jie. Sembahyangnya itu kehadirat Tian,” ujar Budi kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di Pantai Tanjung, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, tradisi bakcang dikenal luas karena berkaitan dengan kisah seorang menteri dari Negeri Chu bernama Qu Yuan yang dikenang karena kecintaannya terhadap tanah air.
“Di tradisi masyarakat, ada yang menyatakan sembahyang bakcang karena memperingati seorang menteri bernama Qu Yuan. Beliau terkenal dengan rasa cinta tanah airnya. Ketika wafat menceburkan diri ke sungai, masyarakat melemparkan bakcang agar jasad beliau tidak dimakan hewan air,” jelasnya.
Menurut Budi, perlombaan perahu naga maupun tradisi melempar bakcang merupakan bagian budaya yang berkembang setelahnya. Sementara makna utama Duan Yang adalah sembahyang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Sebenarnya ini adalah sembahyang kehadirat Tian. Ada juga yang menyebutnya hari takwa atau eling, karena manusia ketika menghadapi kondisi alam yang tidak baik tentu ingin mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memohon perlindungan,” katanya.
Budi menjelaskan, dalam kepercayaan Khonghucu, Duan Yang juga disebut sebagai Hari Kehidupan. Momentum tersebut dipercaya berkaitan dengan fenomena alam saat posisi matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis.
Pada kondisi tersebut, lanjutnya, energi alam dipercaya memiliki manfaat besar, terutama pada waktu tertentu antara pukul 11.00 siang hingga pukul 13.00 siang.
“Dipercaya Tuhan memberikan anugerah melalui energi matahari. Kalau air dijemur pada waktu itu bisa diminum dan dipercaya menyehatkan tubuh. Tumbuhan herbal juga dipercaya memiliki manfaat lebih besar saat diambil pada momentum tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tradisi tersebut tidak hanya terbatas bagi umat Khonghucu maupun masyarakat Tionghoa. Menurutnya, nilai budaya yang terkandung di dalamnya dapat dimaknai secara luas oleh masyarakat.
“Momentum ini siapa saja yang percaya bisa ikut memanfaatkannya, karena ini tradisi dan budaya. Kalau bicara budaya, tidak melihat batasan agama. Berbeda dengan akidah, setiap agama tentu memiliki aturan masing-masing,” ujarnya.
Sebelum melaksanakan sembahyang, umat Khonghucu biasanya menjalankan puasa atau cai ciek, yaitu menjaga diri dari perilaku tidak baik serta berpantang terhadap makanan tertentu sesuai kemampuan masing-masing.
Budi juga menegaskan, nilai utama dalam sembahyang bukan terletak pada kemewahan perlengkapan ritual, melainkan ketulusan hati seseorang dalam menjalankan ibadah.
“Jangan sampai sembahyang hanya meributkan perlengkapannya, tetapi melupakan ibadahnya. Intinya adalah niat dan ketulusan. Untuk apa sembahyang terlihat megah kalau hatinya tidak tulus dan terpaksa,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, Budi berharap peringatan Duan Yang dapat menjadi ruang introspeksi diri untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan memperkuat hubungan antar sesama.
“Jadikan momentum ini untuk berkaca, apakah kita sudah menjaga bumi, menjaga lingkungan, dan tidak membuang sampah sembarangan. Kita juga harus lebih dekat kepada Sang Pencipta,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat terus menjaga kebersamaan dan tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang dalam kehidupan sosial.
“Melalui momen ini mari kita memperbaiki diri, meningkatkan rasa kebersamaan, tidak membeda-bedakan suku, agama, dan ras. Karena budaya adalah milik kita bersama,” pungkasnya.
Laporan: Dini










