Semiati juga berpesan kepada para orang tua agar tidak merasa minder ketika memiliki anak dengan kebutuhan khusus.
“Bawa anak ke rumah sakit, temui dokter anak dan psikolog. Dari situ nanti akan diketahui apakah anak tersebut autis, keterlambatan bicara, atau hiperaktif, dan bisa direkomendasikan ke sekolah SLB,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sekolah luar biasa bukan tempat bagi anak cacat, melainkan tempat untuk mengembangkan potensi anak-anak hebat.
“Anak luar biasa itu anak hebat. Mereka butuh pembelajaran, kasih sayang, dan perhatian. Mereka bukan anak yang kekurangan, justru sering kali lebih dari kita yang normal,” tegasnya.
Menurutnya, kesadaran masyarakat Natuna terhadap pendidikan inklusif kini semakin baik. “Dulu banyak orang tua menutupi, sekarang mereka sudah terbuka dan bahkan rutin berkonsultasi,” ujarnya dengan senyum.
BACA JUGA : Supirman: Turnamen Guru Hidupkan Semangat Olahraga
Sebagai penutup, Semiati berpesan agar para orang tua terus bersemangat menyekolahkan anak-anaknya, apapun kondisinya.
“Setiap anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Itu anugerah Allah yang harus diterima dengan ikhlas. Dengan menyekolahkan mereka, kita telah memberi kesempatan yang sama untuk berkembang seperti anak-anak lainnya,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Nisa










