Hasil asesmen tersebut menjadi dasar dalam menentukan program pembelajaran yang sesuai di kelas. Misalnya, jika anak mengalami keterlambatan berbicara, maka guru fokus pada terapi komunikasi. Namun jika terdapat gangguan sensorik, maka diterapkan terapi sensorik integrasi dan terapi fokus.
“Biasanya kita mulai dengan terapi gulung, supaya anak lebih fokus. Terapi ini membantu mengurangi tantrum sehingga mereka lebih tenang saat belajar,” tuturnya.
Ia menambahkan tantangan utama dalam menangani anak autis adalah menjaga konsistensi pola makan dan pola asuh di rumah agar sejalan dengan terapi di sekolah.
“Anak autis tidak boleh makan coklat, keju, makanan manis, atau yang mengandung MSG. Jadi orang tua harus menerapkan pola makan yang sama di rumah,” jelasnya.
BACA JUGA : Belajar Adalah Bentuk Perjuangan Generasi Masa Kini










