NATUNAPENDIDIKAN

SLBN Natuna Buka SPMB 2026, Anak Berkebutuhan Khusus Disiapkan Mandiri

×

SLBN Natuna Buka SPMB 2026, Anak Berkebutuhan Khusus Disiapkan Mandiri

Sebarkan artikel ini
Ketua Panitia SPMB SLBN Natuna, Suhesti Febriani, S.Pd., menjelaskan proses penerimaan siswa baru tahun 2026 serta program vokasi yang disiapkan bagi siswa berkebutuhan khusus di SLBN Natuna, Selasa (19/5/2026). Sekolah tersebut fokus membangun kemandirian dan keterampilan siswa melalui pendidikan inklusif.

“SLBN Natuna resmi membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 dengan fokus pada pendidikan inklusif, pengembangan vokasi, serta pembentukan kemandirian siswa berkebutuhan khusus.”

Ketua Panitia SPMB SLBN Natuna, Suhesti Febriani, menyampaikan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Natuna mulai membuka penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026 dengan sistem seleksi berbasis asesmen kebutuhan khusus dan pengembangan keterampilan vokasi bagi peserta didik.

NATUNA – Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Natuna resmi membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026. Berbeda dari tahun sebelumnya, pihak sekolah kini mulai melakukan sosialisasi lebih luas kepada masyarakat, termasuk melalui pemasangan spanduk informasi penerimaan siswa baru.

Ketua Panitia SPMB SLBN Natuna, Suhesti Febriani, S.Pd., mengatakan penerimaan siswa tahun ini dilakukan lebih ketat karena keterbatasan jumlah guru, ruang kelas, serta fasilitas sekolah.

“Setelah penutupan pendaftaran dan data Dapodik dikunci, siswa tidak bisa mendaftar lagi,” ujarnya saat diwawancarai di ruang Tata Usaha SLBN Natuna, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, proses penerimaan siswa dilakukan melalui asesmen guna mengidentifikasi jenis kebutuhan khusus masing-masing anak. Penilaian dilakukan berdasarkan surat keterangan dokter maupun hasil identifikasi langsung pihak sekolah.

“Contohnya kalau anak ini tunarungu, maka nanti metode mengajarnya menggunakan bahasa isyarat,” jelasnya.

Menurut Suhesti, standar minimal usia siswa yang diterima adalah enam tahun ke atas. Sementara bagi anak usia empat hingga lima tahun, pihak sekolah akan menyarankan konsultasi dan terapi terlebih dahulu sebelum memasuki usia sekolah.

“Kalau gurunya tidak bersedia melakukan terapi di luar jam sekolah, maka kami arahkan untuk menunggu usia sekolah,” tambahnya.

Untuk membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah, SLBN Natuna juga menyiapkan program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan konsep yang menyenangkan.

Baca Juga:  Wujudkan Toleransi Nyata, Kampung Moderasi Penagi Kurban Lima Ekor Sapi

“Nanti kami buat kegiatan seseru mungkin seperti bermain game, bernyanyi, dan bermain agar anak tidak bosan dan tidak takut ditinggal orang tua,” terangnya.

Meski memiliki keterbatasan, siswa SLBN Natuna disebut mampu meraih berbagai prestasi hingga tingkat provinsi, seperti cabang melukis, lempar lembing, dan lompat jauh.

“Karena SLB di Natuna hanya satu, jadi tidak bisa mengikuti tingkat kabupaten. Kami langsung ikut tingkat provinsi,” katanya.

Selain akademik, sekolah juga fokus mengembangkan keterampilan vokasi untuk membangun kemandirian siswa setelah lulus sekolah.

Program vokasi tersebut meliputi pengolahan limbah plastik dan kertas, tata boga, menjahit, laundry, hingga kegiatan pramuka.

“Kegiatan ini dilakukan setiap hari Rabu. Anak-anak diajarkan memasak, menjahit, hingga belajar berjualan supaya setelah lulus mereka bisa mencari peluang sendiri,” ungkap Suhesti.

Ia menambahkan, sekolah tidak membatasi jumlah penerimaan siswa tahun ini karena adanya penambahan dua tenaga guru serta dukungan fasilitas baru berupa meja dan kursi.

SLBN Natuna juga menyediakan layanan antar jemput bagi siswa yang tinggal jauh dari sekolah, khususnya rute Tanjung dan Cemaga.

“Kalau anak terlalu jauh, bisa diantar ke titik tertentu di Tanjung, nanti supir sekolah yang menjemput,” tuturnya.

Di akhir wawancara, Suhesti berharap para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tidak ragu menyekolahkan anak mereka karena seluruh anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan.

“Anak-anak berkebutuhan khusus tidak berbeda dengan anak normal lainnya. Kami berharap orang tua segera memasukkan anaknya ke sekolah sebelum usianya terlalu lanjut,” harapnya.

Ia menegaskan, pendidikan di SLBN Natuna juga bertujuan membantu meminimalisir gejala tertentu pada anak, seperti tantrum maupun kesulitan bersosialisasi.

“Mereka akan dibuat lebih tenang agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan ramai,” pungkasnya.

Baca Juga:  Gerakan Literasi Tanggamus Juara I Kompetisi Literasi Vlog Challenge

Laporan: Dini


 

📊 Views: 26

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *