“SMKN 1 Bunguran Timur terus memperkuat program Kelas Industri guna mencetak lulusan siap kerja, berkarakter, dan mampu bersaing di dunia usaha serta industri kelautan dan perikanan.”
Kepala SMKN 1 Bunguran Timur, Subbihi, menegaskan program Kelas Industri menjadi langkah strategis sekolah dalam menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan nyata dunia usaha dan dunia industri (DU/DI), khususnya di sektor kelautan dan perikanan.
NATUNA – SMKN 1 Bunguran Timur terus berkomitmen meningkatkan mutu lulusan melalui program Kelas Industri sebagai implementasi konsep link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Program tersebut dijalankan melalui kerja sama erat dengan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Natuna serta sejumlah mitra industri lainnya di bidang kelautan dan perikanan.
Kepala SMKN 1 Bunguran Timur, Subbihi, M.Pd., menjelaskan struktur kurikulum SMK saat ini memang dirancang lebih dominan pada praktik lapangan dibanding teori di kelas.
“Kurikulum SMK itu 30 persen aspek pemahaman konsep, sedangkan sisanya 70 persen adalah action. Jadi kalau dihitung secara matematis, dua tahun anak berada di lapangan dan satu tahun di sekolah,” ujarnya saat diwawancarai di Rumah Makan Ajo Basamo, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, program Kelas Industri tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi terbaru di dunia industri, tetapi juga membentuk karakter siswa seperti disiplin, etos kerja, dan budaya kerja profesional sejak dini.
“Karena mereka ini merupakan generasi penerus kita di bidang pekerjaan,” katanya.
Subbihi menegaskan, siswa SMK saat ini tidak lagi diarahkan hanya menjadi pencari kerja (job seeker), melainkan juga didorong menjadi pencipta lapangan kerja (job creator).
Ia menyebut interaksi langsung dengan pekerja dan pemilik perusahaan menjadi sarana membangun pola pikir kewirausahaan bagi siswa.
“Mereka bisa lebih termotivasi untuk menjadi pencipta lapangan kerja. Karena di sana mereka akan berinteraksi langsung dengan pekerja maupun pemilik industri itu sendiri,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, sekolah secara rutin melakukan penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri agar lulusan tidak tertinggal perkembangan teknologi.
“Kalau kita tidak selaraskan dengan dunia industri, lulusan kita stagnan dan tidak sesuai kebutuhan pasar kerja,” tegasnya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi di industri berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan fasilitas teknologi yang tersedia di sekolah.
Karena itu, kegiatan Kelas Industri menjadi sarana percepatan belajar agar siswa dapat langsung mengakses pengalaman nyata di lapangan.
“Orientasi industri itu profit-oriented. Mereka ingin error sedikit tapi hasil kerja maksimal. Pola pikir seperti ini harus dipahami anak sejak dini supaya ketika lulus mereka tidak kaku lagi memasuki dunia kerja,” tambahnya.
Terkait pelaksanaan program, Subbihi menjelaskan siswa kelas 1 terlebih dahulu diperkenalkan dengan budaya kerja dan lingkungan industri melalui masa pengenalan lingkungan sekolah.
Sementara program Kelas Industri secara rutin mulai diterapkan ketika siswa memasuki kelas 2 sebagai persiapan menuju Praktek Kerja Lapangan (PKL) minimal selama enam bulan.
“Setelah itu anak kembali ke sekolah untuk evaluasi dan refleksi sebelum nantinya dilepas PKL,” ungkapnya.
Ia menyebut salah satu keuntungan besar dari program tersebut adalah tingginya serapan lulusan oleh perusahaan mitra.
“Biasanya biodata dan rekam jejak siswa selama kelas industri membuat mereka langsung diincar perusahaan untuk bekerja kembali setelah lulus,” katanya.
Di akhir wawancara, Subbihi berharap pemerintah daerah dan dinas terkait terus memperkuat regulasi dan dukungan terhadap pendidikan vokasi di wilayah perbatasan.
“Sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah menjadi kunci agar hak anak-anak di perbatasan untuk mengakses teknologi terbaru tetap terpenuhi secara optimal,” pungkasnya.
Laporan: Dini










