KABAR PERBATASANLINGKUNGAN & KELAUTANPENDIDIKAN

SMKN 1 Bunguran Timur Siapkan Siswa PKL Berlayar Siap Kerja

×

SMKN 1 Bunguran Timur Siapkan Siswa PKL Berlayar Siap Kerja

Sebarkan artikel ini
Siswa kelas XII Konsentrasi Keahlian Nautika SMKN 1 Bunguran Timur berfoto bersama guru pembimbing sebelum mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) berlayar di perusahaan pelayaran. Program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran vokasi untuk membentuk lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap memasuki dunia kerja maritim.

“Sebanyak siswa kelas XII Jurusan Nautika SMKN 1 Bunguran Timur mulai memasuki tahapan pemanggilan untuk menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) berlayar di perusahaan pelayaran. Program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran vokasi untuk membentuk lulusan yang siap memasuki dunia kerja.”

Kepala SMKN 1 Bunguran Timur, Subbihi, S.Pd., M.M., mengatakan siswa kelas XII Konsentrasi Keahlian Nautika telah menyelesaikan tahapan wawancara dengan perusahaan dan kini tinggal menunggu jadwal keberangkatan untuk mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) berlayar di PT NDM. Program tersebut merupakan mata pelajaran wajib yang bertujuan membekali peserta didik dengan pengalaman kerja nyata di dunia industri.

NATUNA — SMKN 1 Bunguran Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja melalui pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) berlayar bagi siswa kelas XII Konsentrasi Keahlian Nautika.

Sebelum diberangkatkan ke perusahaan pelayaran, pihak sekolah terlebih dahulu menjalin Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Selama menjalani PKL, seluruh siswa wajib mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di perusahaan serta mematuhi petunjuk teknis (juknis) PKL sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan.

Subbihi menjelaskan seluruh siswa yang mengikuti PKL telah dinyatakan lulus pada tahapan wawancara bersama perusahaan mitra. Saat ini mereka tinggal menunggu panggilan untuk naik kapal.

“Siswa yang telah lulus pada sesi wawancara sekarang tinggal menunggu panggilan untuk naik kapal,” ujarnya kepada koranperbatasan.com melalui pesan WhatsApp, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan jadwal keberangkatan sempat disesuaikan karena perusahaan menghindari musim cuaca buruk di perairan Natuna yang berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran.

“Kapal harus menghindari musim cuaca buruk di perairan Natuna. Saat musim utara, ombak besar dan angin kencang memiliki risiko tinggi sehingga jadwal keberangkatan disesuaikan. Orang tua dan para siswa juga telah menyepakati bahwa masa libur akan diambil setelah pelayaran selesai,” jelasnya.

Baca Juga:  Wujud Syukur Pergantian Tahun, Rasi Natuna Santuni Anak Yatim dan Lansia

Menurut Subbihi, pelaksanaan PKL menjadi salah satu pembeda utama antara pendidikan di SMK dan SMA. Di SMK, peserta didik dipersiapkan sejak dini agar memiliki karakter siap kerja melalui pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan industri.

“Inilah salah satu yang membedakan anak SMK dan SMA. Anak SMK dibangun karakter siap kerjanya sejak dini. Karena itu, kami telah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari bersama siswa, orang tua, dan perusahaan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan sukses mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga hasilnya,” katanya.

Ia menerangkan, sesuai regulasi kurikulum nasional, PKL merupakan mata pelajaran wajib yang menjadi wahana pembelajaran langsung di dunia kerja.

Untuk SMK Program Tiga Tahun, peserta didik wajib menjalani PKL minimal enam bulan atau setara 792 jam pelajaran, yang dilaksanakan pada kelas XII semester lima atau enam.

Sementara itu, SMK Program Empat Tahun mewajibkan peserta didik mengikuti PKL minimal 10 bulan atau setara 1.368 jam pelajaran, yang umumnya dilaksanakan pada kelas XIII.

Selama mengikuti PKL, siswa diwajibkan mematuhi tata tertib sekolah maupun perusahaan, mengisi jurnal kegiatan harian secara jujur, menjaga nama baik sekolah, serta menyusun laporan PKL sebagai bagian dari penilaian akademik. Seluruh kegiatan dilakukan di bawah pengawasan instruktur industri dan guru pembimbing.

Subbihi menegaskan bahwa tantangan dunia kerja saat ini telah berubah. Dunia industri tidak lagi hanya melihat nilai akademik, tetapi lebih menitikberatkan pada kemampuan nyata dan karakter peserta didik.

“PKL merupakan mata pelajaran puncak sekaligus menjadikan siswa sebagai duta sekolah dalam pembelajaran vokasi di dunia nyata. Era industri 2026 tidak lagi hanya melihat nilai rapor, tetapi bukti nyata kemampuan dan karakter siswa,” tegasnya.

Baca Juga:  Tidak Kembali, Satu Orang Deteni Kantor Imigrasi Ranai Asal Vietnam Akhirnya Dicari

Ia berharap seluruh peserta PKL mampu menguasai hard skills sesuai bidang keahliannya, seperti penerapan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pengoperasian peralatan industri, adaptasi teknologi, serta memenuhi standar kualitas yang ditetapkan DUDI.

Selain kemampuan teknis, siswa juga diharapkan mengembangkan soft skills, seperti kedisiplinan, etika kerja, komunikasi profesional, tanggung jawab, kemampuan memecahkan masalah, hingga membangun jaringan profesional selama berada di perusahaan.

Tak hanya itu, siswa juga didorong aktif mendokumentasikan setiap proyek yang dikerjakan sebagai portofolio digital. Menurutnya, portofolio tersebut akan menjadi nilai tambah ketika memasuki dunia kerja setelah lulus.

Melalui PKL, peserta didik juga diharapkan memiliki inisiatif belajar yang tinggi, mampu membaca peluang usaha, serta membangun jiwa kewirausahaan sehingga tidak hanya siap menjadi tenaga kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

“Harapan saya, siswa dapat memanfaatkan momentum PKL tahun 2026 ini sebagai ajang validasi kompetensi yang sesungguhnya. Dengan kerja keras, disiplin, dan ketulusan, langkah kecil yang mereka lakukan hari ini akan menjadi bekal besar untuk masa depan mereka sekaligus berkontribusi bagi kemajuan daerah,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 49

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *