EKONOMI PERBATASANKEUANGANNATUNASUARA RAKYATUMKM PERBATASAN

Kisah Inspiratif The Florist Natuna, Berawal Iseng Kuliah Kini Sukses Bangun Usaha Buket

×

Kisah Inspiratif The Florist Natuna, Berawal Iseng Kuliah Kini Sukses Bangun Usaha Buket

Sebarkan artikel ini
The Florist.ID Bouquet Bunga Natuna menjadi salah satu pelaku UMKM ekonomi kreatif di Kabupaten Natuna yang menyediakan berbagai jenis buket bunga, buket wisuda, buket uang, buket snack, hingga hadiah custom untuk berbagai momen spesial.

“Berawal dari hobi mengisi waktu luang saat masih kuliah, seorang perempuan muda asal Natuna berhasil membangun usaha buket kreatif yang kini berkembang, membuka lapangan kerja, dan tetap bertahan di tengah perlambatan ekonomi daerah.”

Owner The Florist Natuna, Weny Widyaningsih, S.K.M., membuktikan bahwa kreativitas dan keberanian memulai usaha sejak muda mampu membuka peluang kesuksesan. Berawal dari mencoba merangkai buket saat masih menempuh pendidikan di Pontianak, Kalimantan Barat, kini usahanya berkembang menjadi salah satu penyedia buket kreatif yang dikenal masyarakat Kabupaten Natuna.

NATUNA — Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, usaha kreatif menjadi salah satu sektor yang tetap memiliki peluang berkembang apabila dikelola dengan inovasi dan ketekunan. Hal tersebut dibuktikan oleh Weny Widyaningsih, S.K.M., perempuan asal Natuna yang sukses mengembangkan usaha The Florist Natuna.

Weny menceritakan, usahanya mulai dirintis pada 2019 ketika dirinya masih berstatus mahasiswi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Saat memiliki waktu luang di sela perkuliahan, ia mencoba belajar merangkai buket hanya karena rasa penasaran dan ingin mengisi waktu senggang.

Namun, ketika pandemi Covid-19 melanda, aktivitas tersebut sempat terhenti. Setelah menyelesaikan kuliah dan kembali ke Natuna, Weny melihat peluang untuk kembali mengembangkan usaha karena saat itu dirinya belum memperoleh pekerjaan.

“Awalnya saya jualan dari rumah di Sungai Ulu. Ternyata peminatnya cukup banyak, tetapi sebagian besar pelanggan berasal dari Ranai. Saya sering mengantar pesanan sendiri karena mereka enggan mengambil ke Sungai Ulu.

Lama-kelamaan cukup melelahkan, akhirnya setelah menikah kami memutuskan pindah ke Ranai dan tinggal di kos. Setelah itu kami memberanikan diri menyewa ruko ini. Alhamdulillah sekarang sudah berjalan tiga tahun dan sudah memiliki satu karyawan,” ujar Weny kepada koranperbatasan.com, Jumat (3/7/2026).

Baca Juga:  UMKM Natuna Melemah, Marzuki Desak Cen Sui Lan Buka Suara

Menurutnya, usaha buket merupakan bisnis yang sangat bergantung pada momentum. Permintaan biasanya meningkat tajam saat musim wisuda, Hari Guru, pelantikan pejabat, maupun momen-momen spesial seperti ulang tahun dan hari jadi pasangan.

Meski demikian, pesanan harian tetap ada sehingga usahanya dapat terus berjalan sepanjang tahun.

The Florist Natuna menawarkan berbagai pilihan buket dengan harga yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pelanggan. Harga termurah dimulai dari Rp10 ribu, sedangkan buket premium dapat mencapai sekitar Rp1 juta, tergantung ukuran dan jenis rangkaiannya.

Selain buket bunga, pelanggan juga dapat memesan berbagai model buket kreatif sesuai kebutuhan.

“Kami menerima pesanan custom. Ada buket snack dipadukan boneka, buket uang ditambah cokelat, bahkan pernah ada pelanggan membawa bola sendiri untuk dibuatkan buket. Kalau seperti itu tidak ada biaya tambahan, cukup membayar harga buketnya saja,” jelasnya.

Berkat kreativitas tersebut, Weny mengaku mampu memperoleh omzet sekitar Rp5 juta atau lebih setiap bulan pada kondisi penjualan normal, meski sifat usahanya cenderung musiman.

Di balik pencapaiannya, berbagai tantangan juga harus dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan bahan baku di Natuna yang membuat hampir seluruh perlengkapan buket harus didatangkan dari Pulau Jawa.

Menurut Weny, proses distribusi melalui jalur laut sering menjadi kendala, terutama ketika kapal kargo menjalani masa perawatan atau docking sehingga pasokan bahan baku mengalami keterlambatan.

Selain persoalan logistik, persaingan usaha juga semakin ketat seiring bertambahnya pelaku usaha sejenis di Natuna.

“Sekarang usaha seperti ini semakin banyak. Jadi kami harus terus berinovasi dan lebih kreatif supaya tetap bisa bersaing,” katanya.

Weny juga mengakui kondisi ekonomi yang sedang melambat di Natuna turut memengaruhi daya beli masyarakat. Sebagai usaha yang bergerak di sektor kreatif, buket bukan termasuk kebutuhan pokok sehingga permintaan dapat berubah mengikuti kondisi keuangan pelanggan.

Baca Juga:  6 Anak Natuna Kuliah Gratis di PEM Akamigas, Bupati : Semoga Program Ini Berkelanjutan

“Pasti ada dampaknya. Mau usaha makanan atau usaha kreatif seperti kami sama-sama merasakan. Buket ini kan bagi sebagian orang bukan kebutuhan utama. Kalau kondisi keuangan sedang menurun, mereka tentu akan mendahulukan kebutuhan pokok. Tapi alhamdulillah sampai sekarang pesanan masih tetap ada,” tuturnya.

Menjelang musim wisuda yang akan datang, Weny mengajak masyarakat untuk tetap mengabadikan momen kelulusan sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan yang telah dilalui.

Menurutnya, buket maupun boneka wisuda bukan sekadar hadiah, melainkan simbol penghargaan atas kerja keras seseorang hingga berhasil menyelesaikan pendidikan.

“Kelulusan itu momen penting yang layak dikenang. Buket atau boneka wisuda menjadi simbol bahwa perjuangan mereka telah berhasil dilalui,” ujarnya.

Menutup perbincangan, perempuan asli Natuna tersebut berharap usahanya dapat terus berkembang, memiliki ruko milik sendiri, sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.

“Harapan saya tentu usaha ini semakin maju, memiliki ruko sendiri karena yang sekarang masih sewa, dan semoga ke depan tim kami juga semakin bertambah,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 70

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *