KEUANGANNATUNASUARA RAKYATUMKM PERBATASAN

UMKM Kerupuk Atom Natuna Butuh Modal Distribusi

×

UMKM Kerupuk Atom Natuna Butuh Modal Distribusi

Sebarkan artikel ini
Pelaku UMKM Natuna Bujang Taridi menunjukkan kerupuk atom berbahan ikan tongkol di Sentra Kerupuk Atom Natuna. Selasa (10/3/2026).

“Pelaku UMKM kerupuk atom di Natuna berharap dukungan permodalan dan kemudahan distribusi agar usaha olahan ikan khas daerah dapat berkembang dan menjangkau pasar luar daerah.”

Pelaku usaha kerupuk atom Natuna, Bujang Taridi, berharap pemerintah daerah dapat membantu permodalan dan memberikan kemudahan distribusi agar pelaku UMKM mampu mengembangkan usaha serta memperluas pemasaran produk khas Natuna.

NATUNA – Seorang pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bernama Bujang Taridi di Kabupaten Natuna terus berupaya mengembangkan usaha kerupuk atom berbahan dasar ikan tongkol yang telah ia tekuni selama belasan tahun.

Saat ini, usahanya telah berjalan sekitar tiga setengah tahun di Sentra Kerupuk Atom Natuna dan mulai menunjukkan peningkatan permintaan dari masyarakat.

Bujang Taridi menjelaskan bahwa kerupuk atom yang diproduksinya terbuat dari bahan utama ikan tongkol yang dicampur dengan tepung dan bahan lainnya melalui proses pengolahan tradisional.

Ia mengaku telah menekuni usaha tersebut sejak masih berada di kawasan Pulau Tiga, tepatnya di sekitar Selat Lampa.

“Usaha ini sudah saya tekuni belasan tahun. Dulu saya berjualan di sekitar Selat Lampa ketika kapal Pelni Bukit Raya masuk. Dari situ saya mengenalkan produk kerupuk atom ini kepada masyarakat,” ujarnya kepada koranperbatasan.com, Selasa (10/3/2026), di Sentra Kerupuk Atom Natuna.

Seiring berjalannya waktu, usahanya mulai dikenal oleh pemerintah daerah. Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disprindag) Natuna, ia kemudian diajak bergabung dan menempati Sentra Kerupuk Atom tingkat kabupaten.

“Sekarang sudah tiga tahun setengah saya menetap di sentra kerupuk atom ini. Alhamdulillah untuk tahun ini ada peningkatan pesanan dari masyarakat,” katanya.

Dalam perjalanan usahanya, ia mengaku pernah mendapatkan pelatihan dari pemerintah daerah serta fasilitasi sertifikasi halal dari Disprindag.

Baca Juga:  Lurah Ranai Darat Natuna Dorong UMKM dan Pelestarian Tradisi Lokal

Namun untuk bantuan modal usaha, ia menyebut belum pernah mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah daerah, kecuali bantuan dari Baznas sebesar Rp5 juta.

Selain itu, ia juga pernah mencoba mengajukan pinjaman modal ke Bank Riau Kepri, namun belum berhasil karena pihak bank menyampaikan tidak ada dana program yang masuk untuk penyaluran pinjaman tersebut.

“Saya pernah coba mengajukan pinjaman ke Bank Riau Kepri, tapi katanya tidak ada dana yang masuk. Jadi saya mundur. Akhirnya saya mencoba mencari modal dari teman-teman yang bisa membantu sedikit demi sedikit,” ungkapnya.

Menurut Bujang Taridi, tambahan modal sangat dibutuhkan terutama menjelang bulan Ramadan untuk membeli serta menampung bahan baku seperti ikan dan tepung.

Ia mengaku sering mengalami kendala karena pasokan tepung di daerah tersebut terkadang tidak tersedia.

“Kadang ada pesanan tapi tepungnya tidak ada. Makanya saya sangat membutuhkan modal untuk menampung bahan baku,” tuturnya.

Selain persoalan modal, kendala lain yang dihadapinya adalah tingginya biaya distribusi produk ke luar daerah.

Ia mengaku memiliki potensi pasar di beberapa kota seperti Tanjungpinang, Batam, dan Pontianak, namun terkendala biaya pengiriman yang cukup mahal.

“Saya pernah kirim satu karung kerupuk ke Pontianak, beratnya sekitar 12 kilogram. Ongkirnya diminta Rp100 ribu per karung. Padahal keuntungan kami tidak seberapa,” ujarnya.

Ia juga mempertimbangkan pengiriman melalui pesawat dengan biaya sekitar Rp17 ribu per kilogram, namun jika dihitung total biaya pengiriman satu karung bisa mencapai hampir Rp200 ribu, sehingga dinilai masih terlalu mahal bagi usaha kecil.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat membantu mencarikan solusi terkait akses transportasi dan biaya pengiriman bagi pelaku UMKM di Natuna agar produk lokal bisa lebih mudah dipasarkan ke daerah lain.

Baca Juga:  Ekonomi Natuna Menurun, Pelaku UMKM Mulai Mengeluh

“Saya berharap ada kapal langsung dari Natuna ke Batam, atau ada keringanan ongkir untuk usaha kecil seperti kami. Kami juga ingin maju dan mengembangkan usaha,” ujarnya.

Bujang Taridi menambahkan bahwa dukungan pemerintah dalam mempermudah distribusi produk akan sangat membantu pelaku UMKM untuk berkembang sekaligus memperkenalkan produk khas Natuna ke pasar yang lebih luas. (KP).


Laporan: Awan


 

📊 Views: 43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *