EKONOMI PERBATASANKEUANGANNATUNAUMKM PERBATASAN

Warung Bakso Barokah Natuna Tetap Bertahan Saat Harga Sembako Melonjak

×

Warung Bakso Barokah Natuna Tetap Bertahan Saat Harga Sembako Melonjak

Sebarkan artikel ini
Tampak depan Warung Bakso Barokah di kawasan Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Usaha kuliner yang telah berdiri selama delapan tahun ini tetap mempertahankan harga menu meski menghadapi lonjakan harga sembako dan bahan baku. (Foto: Koran Perbatasan)

“Warung Bakso Barokah di Bandarsyah, Kabupaten Natuna, tetap mempertahankan usahanya di tengah lonjakan harga sembako dan menurunnya daya beli masyarakat. Meski biaya produksi terus meningkat, pemilik memilih tidak menaikkan harga demi menjaga pelanggan tetap datang.”

NATUNA — Pemilik Warung Bakso Barokah, Sumiati, mengatakan usaha bakso dan mi ayam yang dirintis bersama mendiang iparnya sejak delapan tahun lalu masih terus bertahan hingga kini. Perjalanan membangun usaha tersebut tidaklah mudah karena mereka sempat berpindah lokasi hingga tiga kali sebelum akhirnya menetap di kawasan Bandarsyah, Kecamatan Bunguran Timur.

“Awalnya saya sama ipar yang datang ke sini duluan untuk buka warung. Kami pindah-pindah tempat sampai tiga kali karena masih mengontrak. Setelah ipar saya meninggal dunia, akhirnya kami sekeluarga menetap di sini dan melanjutkan usaha ini,” ujar Sumiati kepada koranperbatasan.com, Jumat (10/7/2026).

Perempuan asal Solo, Jawa Tengah, itu menuturkan Warung Bakso Barokah kini telah menempati lokasi yang sekarang selama sekitar empat tahun. Selama itu pula, warungnya dikenal masyarakat sebagai salah satu tempat menikmati bakso dan mi ayam di Kota Ranai.

Namun, kondisi usaha dalam dua tahun terakhir tidak lagi seramai sebelumnya. Jika dahulu warungnya mampu menghabiskan hingga empat takaran mi ayam dalam sehari, kini jumlah pelanggan dan omzet penjualan mengalami penurunan.

“Dulu ramai sekali. Mi ayam bisa habis sampai empat takaran dalam sehari. Sekarang memang dua tahun terakhir ini sudah jauh berkurang,” ungkapnya.

Menurut Sumiati, lonjakan harga sembako menjadi tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha kuliner. Harga daging sebagai bahan utama bakso terus meningkat, disusul berbagai kebutuhan pokok lainnya yang ikut mengalami kenaikan.

Meski biaya produksi terus bertambah, hingga saat ini Warung Bakso Barokah belum menaikkan harga jual menu.

Baca Juga:  Tak Serobot Lahan, PT MMI: Kami Terbuka Hukum Berjalan

“Sekarang pendapatan memang lagi susah karena harga sembako naik semua. Dari awal kami belum pernah menaikkan harga. Sebenarnya ingin dinaikkan, tetapi takut pelanggan lari,” katanya.

Warung Bakso Barokah masih menawarkan harga yang terjangkau. Mi ayam biasa dijual mulai Rp12 ribu per porsi, Mi Ayam Urat Rp20 ribu, dan Mi Ayam Urat Telur Rp22 ribu.

Sementara itu, menu bakso terdiri atas Bakso Telur seharga Rp20 ribu, Bakso Urat Dobel Rp23 ribu, serta Bakso Telur Spesial seharga Rp26 ribu.

Bagi Sumiati, warung yang telah dirintis selama delapan tahun ini bukan hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga menjadi saksi perjuangan bersama mendiang iparnya dalam membangun usaha dari nol di Kabupaten Natuna.

Ia berharap kondisi ekonomi segera membaik sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat dan usahanya dapat kembali ramai seperti beberapa tahun lalu.

“Mudah-mudahan ke depan usaha ini lebih lancar lagi, lebih ramai lagi seperti tahun-tahun yang lalu. Memang dua tahun terakhir ini pelanggan berkurang, tetapi kami tetap berharap kondisinya bisa kembali normal,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 103

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *