“Puluhan siswa SMKN 1 Bunguran Timur Kabupaten Natuna mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di dunia industri perikanan untuk meningkatkan keterampilan dan kesiapan memasuki dunia kerja.”
Kepala SMKN 1 Bunguran Timur Natuna, Subbihi, M.Pd., mengatakan sebanyak 47 siswa mengikuti program Praktik Kerja Lapangan (PKL) sebagai langkah memperkuat kemampuan vokasi dan mencetak sumber daya manusia siap kerja.
NATUNA – Sebanyak 47 siswa SMKN 1 Bunguran Timur Kabupaten Natuna resmi mengikuti program Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sejumlah perusahaan mitra dunia industri perikanan.
Program tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) antara pihak sekolah dengan perusahaan dalam mendukung pendidikan vokasi.
Kepala SMKN 1 Bunguran Timur, Subbihi, M.Pd., mengatakan, PKL menjadi salah satu bentuk dukungan dunia industri terhadap sekolah dalam mencetak lulusan yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan lapangan.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi jembatan antara pembelajaran teori di sekolah dengan pengalaman nyata di dunia kerja.
“PKL ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara teori yang didapatkan di sekolah dengan praktik nyata di industri perikanan, serta membantu siswa memahami ekosistem kerja profesional dan pengalaman lapangan sebelum mereka lulus,” ujar Subbihi.
Ia menjelaskan, perusahaan mitra tidak sembarangan menerima peserta PKL. Ada sejumlah kriteria yang menjadi perhatian, mulai dari kedisiplinan, sikap, hingga penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang selama ini telah dibiasakan di lingkungan sekolah.
Selain itu, faktor keselamatan kerja juga menjadi prioritas utama karena sebagian siswa akan menjalani praktik langsung di kawasan industri perikanan Selat Lampa.
“Prioritas utama berikutnya adalah keselamatan kerja atau basic safety training, kesesuaian jurusan siswa dengan kebutuhan divisi perusahaan, surat permohonan resmi dari sekolah, serta kesehatan fisik karena lingkungan kerja di Selat Lampa membutuhkan stamina, terutama praktik lapangan,” jelasnya.
Subbihi mengatakan, seluruh peserta PKL ditempatkan sesuai kompetensi keahlian masing-masing agar pembelajaran berjalan maksimal.
“Siswa kita tempatkan sesuai dengan keahliannya agar pembelajaran lebih terarah,” katanya.
Untuk kompetensi Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI), siswa ditempatkan pada bagian operasional kapal, navigasi, dan manajemen alat tangkap di dermaga.
Sementara kompetensi Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI) diarahkan pada bengkel perawatan mesin kapal, perbaikan sistem kelistrikan, serta pemeliharaan peralatan mekanis.
Untuk kompetensi Budidaya Perikanan, siswa ditempatkan di area hatchery, pemantauan kualitas air, hingga teknik pemberian pakan.
Sedangkan kompetensi Pengolahan Hasil Perikanan difokuskan pada penanganan pascapanen (handling), higienitas, serta pengemasan produk.
Selama menjalani PKL, siswa didampingi langsung oleh mentor atau pembimbing lapangan yang merupakan staf senior di masing-masing divisi perusahaan.
Proses pembelajaran dilakukan menggunakan sistem learning by doing, dimulai dari observasi, melaksanakan tugas terstruktur, hingga diberikan kepercayaan menjalankan pekerjaan secara mandiri.
Subbihi menambahkan, sejumlah keterampilan teknis wajib dikuasai siswa selama berada di lingkungan industri.
Kemampuan tersebut meliputi pemahaman Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), penggunaan alat sesuai bidang keahlian, kemampuan beradaptasi dengan kondisi lingkungan, serta komunikasi yang baik dengan pembimbing lapangan.
Selain keterampilan teknis, siswa juga dituntut mematuhi aturan dan etika dunia kerja.
Mulai dari disiplin terhadap jam kerja, menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), menjaga informasi operasional perusahaan, hingga menjaga sopan santun kepada atasan maupun rekan kerja.
Ia tidak menampik bahwa masa awal PKL menjadi tantangan bagi sebagian siswa karena harus menyesuaikan diri dengan budaya kerja industri.
“Tantangan awal biasanya adaptasi lingkungan, karena ada perbedaan antara sekolah dengan ritme kerja industri yang disiplin dan cepat. Kemudian stamina atau kelelahan fisik, serta kurang percaya diri saat mengoperasikan alat atau menangani proses produksi secara langsung,” jelasnya.
Untuk memastikan perkembangan siswa, pihak industri bersama sekolah melakukan evaluasi melalui observasi harian dan laporan akhir PKL.
Mentor akan mencatat perkembangan, kedisiplinan, serta tanggung jawab siswa selama mengikuti praktik.
Subbihi berharap, program PKL tidak hanya menjadi kewajiban sekolah, tetapi benar-benar memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik.
“Harapan saya, para siswa tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban sekolah, tetapi mampu mengambil ilmu praktis yang tidak ada di buku teks,” ungkapnya.
Ia juga berharap lulusan SMKN 1 Bunguran Timur memiliki karakter pekerja yang kuat dan mampu menjadi generasi unggul.
“Semoga mereka memiliki mentalitas kerja yang tangguh, jujur, dan memiliki etos kerja tinggi sehingga mampu bersaing di dunia kerja nyata setelah lulus, sekaligus menjadi aset SDM muda daerah dalam menghadapi Indonesia Emas tahun 2045,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Dini










