KETIMPANGAN bukanlah isu baru di negeri ini. Namun dalam beberapa tahun terakhir, jurang itu makin menganga lebar.
Di tengah angka pertumbuhan ekonomi yang digembar-gemborkan naik, realita di lapangan memperlihatkan hal yang berbeda. Rakyat kecil justru menanggung beban paling besar dari kebijakan ekonomi yang banyak menyejahterakan segelintir elit.
Kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat adalah potret nyata ketimpangan struktural. Ketika harga beras melonjak, listrik tak kunjung turun, dan ongkos transportasi makin mahal, mereka yang hidup di bawah garis penghasilan menengah harus memutar otak lebih keras untuk bertahan.
Ironisnya, saat subsidi dipangkas demi “efisiensi fiskal”, yang terdampak justru bukan mereka yang mampu, tapi mereka yang selama ini menggantungkan hidup pada bantuan negara.
Beban itu makin terasa ketika jaring pengaman sosial tidak hadir tepat waktu atau tepat sasaran. Banyak warga mengeluhkan bantuan yang tidak turun, data yang tidak valid, hingga sistem yang rumit.










