Di Tengah gembar-gembor pertumbuhan ekonomi nasional yang diklaim terus naik, tak semua meja makan ikut merasakan dampaknya. Ada ketimpangan yang begitu mencolok antara narasi makro yang dipoles dengan angka dan realita mikro yang getir di dapur-dapur rakyat.
Ini bukan soal kemalasan, melainkan soal struktur: bagaimana kebijakan ekonomi dibentuk dari atas, tetapi efeknya tak selalu menetes ke bawah.
Pertumbuhan ekonomi sering dijadikan tolok ukur keberhasilan sebuah pemerintahan. Angka-angka yang menunjukkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) atau peningkatan investasi langsung asing memang menarik secara statistik.
Namun, pertanyaannya: sejauh mana angka itu mencerminkan peningkatan kesejahteraan nyata bagi masyarakat kelas bawah?
Ketika subsidi energi dan pangan dikurangi dengan alasan efisiensi anggaran, rakyat kecil langsung merasakan efeknya. Harga kebutuhan pokok naik, ongkos transportasi meningkat, dan daya beli semakin tergerus.










