“Pelaku UMKM di Natuna mengeluhkan kendala distribusi barang dari luar daerah yang dinilai menghambat perputaran modal usaha.”
Pemilik Toko Lakimuan Store, Dewi Aminah, mengungkapkan bahwa usaha yang ia rintis sejak sekitar tahun 2017 kini telah berkembang secara bertahap, meskipun masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait pengiriman barang dari luar daerah menuju Kabupaten Natuna.
NATUNA – Pemilik Toko Lakimuan Store di Ranai, Kabupaten Natuna, Dewi Aminah, menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai sekitar delapan hingga sembilan tahun lalu. Ia menyebutkan bahwa usaha tersebut bermula dari penjualan sederhana sebelum akhirnya berkembang hingga memiliki toko sendiri.
“Sekitar tahun 2017 lah mulainya itu pertama sekali. Jadi sekarang sudah sekitar delapan atau sembilan tahun,” ujar Dewi saat ditemui di tokonya, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, perkembangan usaha yang ia jalankan terjadi secara bertahap. Pada awal merintis usaha, ia berjualan secara online dan berkeliling sebelum akhirnya menyewa tempat kecil untuk berjualan.
“Dulu kan jualan online, keliling-keliling juga. Lalu sewa tempat kecil-kecilan. Sudah berpindah beberapa kali juga di sini, dan yang terakhir ini sudah punya tempat sendiri, alhamdulillah,” ungkapnya.
Meski demikian, Dewi mengatakan bahwa kendala utama yang dihadapi bukan pada pembeli, melainkan pada distribusi barang dari luar daerah.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar barang dagangan dibeli dari Jakarta, khususnya dari kawasan Tanah Abang. Barang tersebut biasanya dikirim terlebih dahulu ke Pontianak sebelum akhirnya sampai ke Natuna.
“Kendalanya di pengiriman barang. Kita belanjanya dari Jakarta, Tanah Abang. Kadang kapal itu susah datang. Pernah sampai hampir satu bulan baru sampai barangnya,” katanya.
Kondisi tersebut membuat perputaran modal usaha menjadi terhambat karena barang yang sudah dibeli belum bisa segera dijual.
“Modal kita jadi mati di situ, nggak muter. Itu yang jadi kendala sebenarnya,” jelasnya.
Selain faktor distribusi, Dewi juga menyebutkan kondisi cuaca sering menjadi penyebab keterlambatan pengiriman barang. Ia mengatakan sebagian besar pelaku usaha kecil memilih menggunakan kapal barang karena biaya pengiriman yang lebih murah dibandingkan pesawat.
“Kalau pakai pesawat sebenarnya bisa saja cepat, tapi ongkosnya mahal. Kita pakai kapal barang saja supaya lebih murah,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia juga merasakan adanya perubahan pola belanja masyarakat akibat meningkatnya transaksi melalui platform online.
“Sekarang kan banyak penjual online. Pembeli juga banyak yang belanja online karena ongkirnya sekarang murah,” katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan usaha, Dewi mengaku hingga kini belum pernah menerima bantuan usaha langsung dari pemerintah.
“Kalau bantuan yang benar-benar bantuan itu belum pernah. Yang sering datang itu dari bank, menawarkan pinjaman saja,” ujarnya.
Ia juga menilai kondisi ekonomi daerah turut mempengaruhi aktivitas penjualan di tokonya, terutama karena sebagian besar pelanggan berasal dari kalangan pegawai negeri.
“Kalau TPP PNS lambat itu sangat berpengaruh. Begitu cair baru terasa ada perputaran uang lagi,” katanya.
Menurut Dewi, salah satu solusi yang diharapkan para pelaku usaha di Natuna adalah peningkatan layanan transportasi laut agar distribusi barang menjadi lebih lancar dan biaya pengiriman lebih terjangkau.
“Harapannya kapal-kapal barang diperbanyak dan ongkosnya jangan terlalu mahal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini pelaku usaha di Natuna lebih banyak menggunakan kapal barang yang beroperasi melalui Pelabuhan Penagi maupun kapal roro untuk mengangkut barang. (KP).
Laporan: Dini










