“Seorang pedagang kelapa muda di Ranai, Natuna, mengaku telah menjalankan usahanya selama enam tahun, namun hingga kini belum pernah menerima bantuan usaha dari pemerintah.”
Pedagang kelapa muda di Ranai, Kabupaten Natuna, Pak Saki, mengaku telah menekuni usaha jualan kelapa muda segar selama sekitar enam tahun sebagai sumber penghasilan utama, namun hingga kini belum pernah merasakan dukungan berupa bantuan modal, pelatihan usaha, maupun fasilitasi usaha dari pemerintah.
NATUNA – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Namun, tidak sedikit pelaku usaha yang masih menjalankan usahanya secara sederhana dengan keterbatasan modal dan dukungan.
Hal tersebut dirasakan oleh Pak Saki, seorang pedagang kelapa muda segar yang telah menekuni usahanya selama sekitar enam tahun di kawasan Jalan Sihotang, Ranai, Kabupaten Natuna.
Pak Saki mengatakan setiap hari dirinya menjual kelapa muda sebagai satu-satunya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Ini saja yang saya tekuni setiap hari, jual kelapa. Bukan hanya saat bulan puasa saja, hari-hari biasa juga tetap jualan ini. Kerja lain pun sudah tidak mampu lagi,” ujarnya kepada Koran Perbatasan, Kamis (13/3/2026).
Selama menjalankan usaha tersebut, ia mengaku belum merasakan perkembangan signifikan dalam usahanya. Penghasilan yang diperoleh umumnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta memutar kembali modal usaha.
“Kalau peningkatan tidak ada. Paling untuk makan dan modal lagi. Mutar-mutar di situ saja, kelebihan itu tidak ada,” katanya.
Selain keterbatasan modal, Pak Saki juga mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan usaha maupun bantuan fasilitas dari pemerintah daerah.
“Nggak ada sama sekali. Bantuan modal juga tidak ada,” ungkapnya.
Ia juga mengaku belum mengetahui adanya program bantuan usaha dari pemerintah yang disalurkan melalui perbankan. Namun, jika kesempatan tersebut ada, ia menyatakan bersedia mengajukan bantuan untuk menambah modal usaha.
“Kalau ada mungkin mau mengajukan juga, untuk tambah-tambah modal,” ujarnya.
Dalam menjalankan usahanya, Pak Saki membeli kelapa dari pemasok dengan harga sekitar Rp3.000 per butir. Air kelapa beserta isinya kemudian dijual kepada pembeli dengan harga sekitar Rp5.000 per porsi.
Menurutnya, jumlah pembeli biasanya meningkat selama bulan Ramadan dibandingkan hari-hari biasa.
“Kalau pembeli memang lebih ramai saat bulan puasa. Tapi alhamdulillah, bisa untuk makan dan untuk modal lagi,” sebutnya.
Ke depan, Pak Saki berharap usahanya dapat berkembang jika mendapatkan tambahan modal.
Ia berencana membeli mesin parut kelapa agar dapat menambah jenis usaha selain menjual kelapa muda segar.
“Kalau ada modal, saya ingin beli mesin parut kelapa. Jadi bisa tambah usaha, tidak hanya jual kelapa segar saja,” jelasnya.
Melalui kesempatan tersebut, Pak Saki juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah daerah, khususnya Bupati Natuna, agar memberikan perhatian kepada pelaku usaha kecil seperti dirinya.
“Harapan saya kalau bisa ada bantuan, walaupun sedikit tidak apa-apa. Sedikit pun jadilah,” tutupnya. (KP).
Laporan: Awan










