BUDAYA PERBATASANNATUNAPOTRET PERBATASAN

Sejit Fu De Zhengshen di Natuna Ajarkan Kebajikan dan Kerukunan Umat

×

Sejit Fu De Zhengshen di Natuna Ajarkan Kebajikan dan Kerukunan Umat

Sebarkan artikel ini
Umat Khonghucu melaksanakan ibadah Sejit Fu De Zhengshen di Klenteng Fuk De Chi, Kota Tua Penagi, Kabupaten Natuna. Peringatan hari lahir suci Fu De Zhengshen ini menjadi momentum memperkuat nilai kebajikan, mempererat kerukunan, serta menanamkan pendidikan karakter sesuai ajaran Ru Jiao (Khonghucu). (Foto: Koran Perbatasan)

“Peringatan Sejit Fu De Zhengshen di Klenteng Fuk De Chi, Kota Tua Penagi, Kabupaten Natuna, dimaknai umat Khonghucu sebagai momentum memperkuat kebajikan, menjaga kerukunan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sesuai ajaran Ru Jiao (Khonghucu).”

 

Pemuka Agama Khonghucu Kabupaten Natuna, Budi Setyawan, S.Pd., menjelaskan bahwa peringatan Sejit Fu De Zhengshen dalam ajaran Ru Jiao (Khonghucu) bukanlah bentuk penyembahan patung, melainkan pelaksanaan ajaran Ji Tian Di, Jing Gui Shen (祭天地, 敬鬼神), yaitu menghormati Langit dan Bumi serta menghormati para Roh Suci sebagai wujud rasa syukur dan pembelajaran kebajikan.

NATUNA – Peringatan Sejit Fu De Zhengshen di Klenteng Fuk De Chi, Kota Tua Penagi, Kabupaten Natuna, tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi umat Khonghucu untuk memperkuat nilai kebajikan, kepedulian sosial, dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pemuka Agama Khonghucu Kabupaten Natuna, Budi Setyawan, S.Pd., mengatakan bahwa dalam ajaran Ru Jiao, peringatan Sejit merupakan bentuk penghormatan kepada Langit, Bumi, dan para Roh Suci, bukan penyembahan terhadap patung.

“Sembahyang Sejit memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. Pertama, untuk mengingat Tian Di sebagai wujud Bao En atau membalas budi kepada alam tempat manusia hidup,” ujarnya kepada koranperbatasan.com saat ditemui di Klenteng Fuk De Chi, Kota Tua Penagi, Minggu (19/7/2026).

Menurut Budi, makna kedua dari peringatan Sejit adalah mengajak umat meneladani kebajikan (De) yang dimiliki Fu De Zhengshen agar menjadi pribadi yang berbudi luhur atau Jun Zi.

Ia mengutip ajaran dalam Lunyu yang berbunyi “De Bu Gu, Bi You Lin” yang berarti kebajikan tidak akan pernah berjalan sendiri, tetapi akan selalu menghadirkan orang-orang baik di sekitarnya.

Baca Juga:  APBDes 2025 Desa Kelanga Fokus pada Air Bersih, Ketahanan Pangan, dan BLT

“Hari lahir suci ini mengingatkan kita untuk mempelajari riwayat hidup Fu De Zhengshen dan meneladani kebajikannya agar menjadi manusia yang membawa manfaat bagi sesama,” jelasnya.

Makna ketiga, lanjut Budi, adalah mempererat kerukunan masyarakat melalui pengamalan nilai Li (tata krama), Yi (keadilan dan kepedulian sosial), serta Xin (kepercayaan).

Menurutnya, Sejit menjadi momentum bagi umat untuk melakukan refleksi diri, apakah telah menjaga bumi, menjaga hubungan dengan sesama, serta mengumpulkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Budi juga menjelaskan bahwa Fu De Zhengshen, yang dikenal luas dengan sebutan Tu Di Gong, merupakan gelar kehormatan bagi sosok suci yang semasa hidupnya berjasa besar kepada masyarakat.

“Fu berarti membawa berkah, De berarti kebajikan, sedangkan Zheng bermakna jujur dan adil. Keteladanan beliau terletak pada nilai Ren atau cinta kasih, Yi atau keadilan, dan De atau kebajikan yang dijalankan secara konsisten. Intinya, kalau ingin memperoleh berkah, maka seseorang harus lebih dahulu membangun kebajikan,” katanya.

Lebih lanjut, Budi menilai Klenteng Fuk De Chi di Kota Tua Penagi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat ibadah.

Dalam ajaran Ru Jiao, klenteng merupakan Xue Tang atau sekolah pembentukan budi pekerti yang berperan mendidik generasi muda melalui pembelajaran nilai-nilai moral dan budaya.

Menurutnya, pendidikan karakter dapat diwujudkan dengan melibatkan generasi muda dalam kegiatan ritual keagamaan, bakti sosial, pelestarian budaya, pembelajaran kitab suci, hingga kegiatan barongsai sebagai bagian dari pembinaan nilai luhur.

“Klenteng bukan hanya tempat sembahyang, tetapi juga tempat membentuk karakter. Anak-anak muda belajar melayani, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, serta memahami nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan nyata,” tuturnya.

Menutup keterangannya, Budi berharap peringatan Sejit Fu De Zhengshen tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki karakter umat dan masyarakat secara luas.

Baca Juga:  Memastikan Pemilu 2020 Berjalan Dengan Baik Bawaslu Natuna Bentuk Desa Pengawasan

“Pesan saya kepada umat, jangan hanya mengejar berkah (Fu), tetapi kejarlah kebajikan (De). Untuk generasi muda, jadilah ‘Fu De Zhengshen Muda’ yang membawa manfaat di mana pun berada. Sejit mengajarkan kita tiga hal, yaitu menjaga tanah, menjaga sesama, dan menjaga hati,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 61

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *