Konsep financial resilience menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Kemampuan untuk menyesuaikan anggaran rumah tangga, memilah prioritas pengeluaran, hingga membatasi konsumsi non-esensial menjadi bentuk pertahanan di tengah krisis. Namun, tidak semua orang memiliki bekal literasi keuangan yang memadai untuk melakukannya.
Sayangnya, peningkatan literasi keuangan masih belum menjadi prioritas utama dalam desain kebijakan publik. Di saat tekanan ekonomi makin berat, rakyat justru dibiarkan mencari solusi sendiri, mulai dari menunda pembayaran tagihan, meminjam ke lembaga informal, hingga menjual barang kebutuhan sekunder demi bertahan.
Sementara itu, pemerintah sibuk dengan narasi-narasi teknokratis tentang efisiensi dan konsolidasi fiskal. Padahal, strategi adaptasi rakyat seharusnya diperkuat oleh negara melalui edukasi keuangan, insentif hemat energi dan pangan, atau dukungan langsung berbasis kebutuhan, bukan diserahkan sepenuhnya pada daya juang individu.










