Jika negara serius ingin menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap krisis, maka pendekatannya harus berlapis, tidak hanya menstabilkan anggaran negara tapi juga memperkuat kapasitas adaptif rakyat. Ini mencakup integrasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan sosial, yang menjamin warga tak hanya “dipaksa mengerti”, tapi benar-benar difasilitasi untuk beradaptasi.
Karena krisis bukan semata soal angka, melainkan realitas harian yang terasa hingga meja makan. Dan mengatur keuangan dalam kondisi semacam itu bukanlah pilihan, tapi keniscayaan. Negara yang hadir adalah negara yang membantu rakyat mengubah keterdesakan menjadi ketahanan.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










