KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Anggaran Kementerian Menumpuk di Jawa, Perbatasan Terlupakan

×

Anggaran Kementerian Menumpuk di Jawa, Perbatasan Terlupakan

Sebarkan artikel ini
Fasilitas umum terbengkalai di perbatasan Indonesia akibat minimnya belanja kementerian di luar Pulau Jawa
Ilustrasi kondisi infrastruktur terbengkalai di wilayah perbatasan menunjukkan minimnya alokasi belanja kementerian di luar Jawa.

Mengkritisi Paradigma Pembangunan yang Bias

Pola belanja kementerian yang tersentralisasi mencerminkan bias struktural dalam paradigma pembangunan nasional. Negara lebih condong pada logika ekonomistik, yakni memaksimalkan pertumbuhan ekonomi di wilayah padat penduduk ketimbang menjamin inklusivitas pembangunan di wilayah perbatasan.

Dalam perspektif filsafat politik, situasi ini mencerminkan ketidakadilan distributif sebagaimana dikritik oleh John Rawls, di mana negara justru gagal mengutamakan kelompok yang paling kurang beruntung.

Lebih jauh, ketimpangan ini juga mengindikasikan lemahnya konsep redistribusi fiskal interregional, yang seharusnya menjadi pondasi sistem keuangan publik dalam negara berwilayah luas seperti Indonesia.

Menuju Desentralisasi yang Substantif

Desentralisasi tidak cukup hanya dengan otonomi daerah. Yang dibutuhkan adalah desentralisasi fiskal substantif yakni ketika belanja kementerian dan lembaga turut dikalkulasi untuk mendorong pemerataan pembangunan antardaerah.

Wilayah 3T harus menjadi subjek aktif dalam perencanaan nasional, bukan sekadar objek belas kasih pembangunan. Tanpa keberpihakan afirmatif dalam APBN, maka jurang ketimpangan akan terus melebar dan kepercayaan publik di wilayah terluar akan kian tergerus.


Oleh : Dhitto Adhitya , Redaktur Koran Perbatasan


📊 Views: 17
Baca Juga:  PNS Aktif di Natuna, Bonk Dani Bangun Kopi Piwang Hingga Tembus Pasar Lokal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *