“Menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (Kekarhutla), Pemerintah Kabupaten Natuna bersama Polres Natuna dan sejumlah instansi terkait memperkuat kesiapsiagaan. Sebanyak 12 unsur instansi dilibatkan, sementara empat kecamatan dengan sekitar 17 titik rawan menjadi perhatian berdasarkan data sementara.”
Kabag Ops Polres Natuna, AKP Khairul, mengatakan kesiapsiagaan penanganan kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di Kabupaten Natuna perlu dibangun melalui komitmen bersama lintas instansi. Hal itu diwujudkan melalui apel kesiapsiagaan sekaligus pemetaan wilayah yang memiliki potensi kerawanan kebakaran.
NATUNA — Pemerintah Kabupaten Natuna bersama Polres Natuna, TNI, dan sejumlah instansi terkait menggelar Apel Kesiapsiagaan Penanganan Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Kekarhutla) di Pantai Piwang, Jumat (28/8/2026).
Apel yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan seluruh unsur dalam menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di wilayah Kabupaten Natuna.
Kegiatan tersebut melibatkan 12 unsur, yakni Polres Natuna, BPBD Kabupaten Natuna, Disdamkarmat Kabupaten Natuna, Basarnas, Kodim 0318 Natuna, Yonkomposit I/Gardapati, Yonzipur, Pangkalan TNI AL, Pangkalan TNI AU, Satpol PP Kabupaten Natuna, Dishub Kabupaten Natuna, dan PDAM Kabupaten Natuna.
Kabag Ops Polres Natuna, AKP Khairul, mengatakan apel tersebut menjadi bentuk komitmen bersama agar seluruh leading sector yang terlibat memahami tugas masing-masing ketika terjadi kebakaran.
“Kita intinya membuat suatu komitmen bersama dulu, dituangkan dalam wujud nyata itu salah satunya dalam bentuk apel kesiapsiagaan. Nanti tindak lanjutnya, jika terjadi kebakaran, semua leading sector yang terlibat di dalam apel ini sudah tahu apa yang harus dilakukan,” ujarnya kepada koranperbatasan.com di kawasan Pantai Piwang, Jumat (28/8/2026).
Selain apel, dalam waktu dekat juga direncanakan pembangunan posko siaga di wilayah yang relatif jauh dan memiliki potensi kerawanan kebakaran.
“Dalam waktu dekat ada posko yang akan kita buat sifatnya siaga, terutama wilayah agak jauh dari sini, seperti di Batu Tiga,” katanya.
17 Titik di Empat Kecamatan
Khairul mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, terdapat empat kecamatan yang terpantau memiliki titik rawan kebakaran. Keempat wilayah tersebut yakni Bunguran Selatan, Bunguran Batu Tiga, Bunguran Timur Laut, dan Serasan.
“Yang nyata titik api itu ada empat kecamatan yang terpantau. Sementara ada lebih kurang di kecamatan ada 17, sementara untuk kecamatan yang lain belum terpantau,” jelasnya.
Ia berharap potensi kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan sehingga persoalan Kekarhutla tidak terjadi di Kabupaten Natuna.
“Kalau dapat masalah karhutla ini ditiadakanlah di Kabupaten Natuna. Harapan kita seperti itu,” ujarnya.
180 Personel Tercantum dalam Permintaan Apel
Sementara itu, berdasarkan surat BPBD Kabupaten Natuna tertanggal 26 Agustus 2026 tentang permintaan personel dan gelar peralatan, sebanyak 12 unsur tercantum dalam daftar peserta apel.
Dalam dokumen tersebut, Polres Natuna diminta menyiapkan 30 personel dengan dua kendaraan roda empat. BPBD Kabupaten Natuna, Disdamkarmat Kabupaten Natuna, Basarnas, Kodim 0318 Natuna, Yonkomposit I/Gardapati, Yonzipur, Pangkalan TNI AL, Pangkalan TNI AU, Satpol PP Kabupaten Natuna, dan Dishub Kabupaten Natuna masing-masing tercantum sebanyak 15 personel.
Sementara PDAM Kabupaten Natuna tidak tercantum jumlah personelnya dalam daftar tersebut, tetapi diminta menyiapkan satu kendaraan roda empat.
Jika seluruh permintaan personel dalam dokumen tersebut dijumlahkan, terdapat 180 personel yang tercantum, dengan dukungan 14 kendaraan roda empat.
Surat tersebut juga mencantumkan peserta diminta hadir pukul 07.00 WIB untuk persiapan personel dan gelar peralatan serta mengenakan pakaian peserta apel PDL lengkap.
Warga Diminta Proaktif
Khairul juga mengingatkan masyarakat Natuna agar lebih proaktif mengikuti perkembangan informasi, terutama ketika hendak melakukan aktivitas yang memiliki risiko keselamatan seperti melaut dan mendaki gunung.
Menurutnya, masyarakat dapat memanfaatkan informasi digital maupun imbauan resmi pemerintah sebelum memutuskan melakukan aktivitas di luar ruangan.
“Kalau untuk kegiatan masyarakat, apalagi yang tadi ditanyakan masalah mau naik ke gunung, melaut, masyarakat itu harus proaktif. Sekarang kan zaman digitalisasi, bisa mengecek aplikasi, bisa mendengar langsung pemberitahuan ataupun imbauan,” katanya.
Ia meminta masyarakat tidak memaksakan diri apabila telah mendapatkan informasi mengenai kondisi yang tidak aman.
“Jika sudah mendapatkan informasi itu, ya janganlah. Yang awalnya mau melaut jangan dulu, yang mau naik ke gunung jangan dulu,” tegasnya.
Khairul menilai kehati-hatian masyarakat penting agar tidak terjadi persoalan yang justru dapat membahayakan diri sendiri dan membuat petugas harus melakukan penanganan tambahan.
Ia kemudian menyinggung kejadian warga yang baru-baru ini tersesat di kawasan Gunung Natuna saat mencari madu.
“Alasannya mau mencari madu, nyatanya tak balik-balik, kan repot. Nah, seperti itu. Artinya masyarakat butuh kepedulian,” pungkasnya. (KP)
Laporan: Dini










