Situasi ini menunjukkan bahwa narasi penghematan seharusnya tidak hanya tentang angka dan efisiensi, tapi juga tentang keadilan sosial. Negara, dalam setiap kebijakannya, semestinya tidak hanya menjadi manajer fiskal, tapi juga pelindung ekonomi rakyat. Pengurangan anggaran tidak boleh dibebankan secara tidak proporsional kepada mereka yang paling rentan.
Maka, pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi “seberapa besar defisit negara?”, tetapi “seberapa kuat rakyat menanggung beban ini?”.
Ketika kehidupan sehari-hari makin sulit, dan negara hanya hadir dalam bentuk spanduk program tanpa dampak nyata, rakyat akhirnya harus bertahan sendiri dan itu bukan kemenangan, melainkan bentuk paling telanjang dari ketimpangan struktural yang dibiarkan tumbuh.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










