KETIKA pemerintah mengumumkan pemangkasan belanja negara demi efisiensi fiskal, mungkin yang terlihat adalah angka dan grafik. Tapi bagi warga biasa, dampaknya sangat riil: subsidi berkurang, bantuan melambat, harga-harga naik, dan pengeluaran tak lagi sebanding dengan penghasilan.
Kondisi ini memaksa banyak keluarga untuk melakukan penyesuaian cepat. Dapur harus tetap ngebul, anak tetap sekolah, dan cicilan tetap berjalan, sementara pemasukan cenderung stagnan. Di sinilah pentingnya strategi bertahan yang realistis di tengah tekanan kebijakan dari atas.
Langkah pertama adalah menyusun ulang prioritas pengeluaran. Kebutuhan pokok seperti makanan, kesehatan, dan pendidikan harus tetap jadi yang utama. Jika sebelumnya masih ada anggaran untuk hiburan atau konsumsi tersier, inilah saatnya mengerem dan mulai memilah mana kebutuhan dan mana keinginan.










