“Permintaan bibit kerapu cantang melonjak tajam pasca panen raya Imlek 2026, menjadikan hatchery D-Marine Aquaculture Tanjungpinang sebagai incaran utama pembudidaya Kepulauan Riau.”
TANJUNGPINANG – Teknisi Hatchery D-Marine Aquaculture Tanjungpinang, Venti Julian, mengungkapkan permintaan bibit kerapu cantang di Kepulauan Riau meningkat signifikan setelah panen raya Imlek. Pembudidaya dari Lingga, Anambas, hingga Natuna mulai berburu benih unggul untuk siklus tebar baru menuju target panen Imlek tahun depan.
Usai perayaan Imlek dan panen raya kerapu cantang di sejumlah keramba wilayah Kepulauan Riau, aktivitas budidaya kembali bergerak cepat. Para pembudidaya dari berbagai daerah seperti Lingga, Kepulauan Anambas, hingga Natuna mempersiapkan siklus pemeliharaan baru.
Tidak hanya pelaku usaha keramba jaring apung (KJA), tetapi juga pembudidaya keramba jaring tancap (KJT) turut berburu bibit berkualitas. Kedua sistem budidaya tersebut membutuhkan benih unggul agar pertumbuhan optimal serta tingkat kelangsungan hidup tinggi hingga masa panen.
Momentum awal tahun dinilai strategis. Dengan siklus pemeliharaan sekitar 10-12 bulan, periode pasca-Imlek menjadi fase krusial dalam menentukan keberhasilan panen berikutnya.
Salah satu hatchery yang kini menjadi incaran adalah D-Marine Aquaculture yang berlokasi di Dompak, Tanjungpinang, dan berdiri sejak 2019. Hatchery ini dikenal menyediakan bibit kerapu cantang grade A dengan ukuran favorit sekitar 10 sentimeter, ukuran yang dinilai ideal untuk ditebar di KJA maupun KJT.
“Banyak pembudidaya, baik KJA maupun jaring tancap, langsung menghubungi untuk memastikan ketersediaan bibit ukuran 10 cm. Ada juga yang sudah memesan dari jauh hari,” ujar Venti Julian saat diwawancarai, Sabtu (22/2/2026) pukul 10.30 WIB.
Menurutnya, keunggulan hatchery tidak hanya pada kualitas benih, tetapi juga pendampingan teknis. Seluruh teknisi merupakan lulusan sarjana perikanan budidaya perairan yang memahami manajemen pemeliharaan secara menyeluruh.
Ia menjelaskan bahwa proses penebaran menjadi tahap yang sangat menentukan keberhasilan awal budidaya.
“Penebaran itu tahap yang sangat menentukan. Kalau terlalu cepat dilepas tanpa adaptasi, risiko kematian bisa tinggi. Jadi kami selalu arahkan agar prosesnya bertahap,” jelasnya.
Pendampingan dilakukan mulai dari proses aklimatisasi, penyesuaian suhu dan kualitas air, hingga teknik pelepasan agar ikan tidak mengalami stres. Bahkan setelah bibit tiba di lokasi, konsultasi lanjutan terkait manajemen pakan, kepadatan tebar, dan pencegahan penyakit tetap diberikan.
Pendekatan teknis yang menyeluruh inilah yang membuat D-Marine Aquaculture tetap menjadi salah satu hatchery paling dicari di Tanjungpinang dan sekitarnya, meskipun kini semakin banyak usaha sejenis bermunculan.
Pasca panen raya tahun ini, harapan kembali ditebar bersama ribuan bibit kerapu cantang yang siap dibesarkan. Para pembudidaya optimistis menyambut panen Imlek tahun depan dengan persiapan yang lebih matang sejak awal. (KP).
Laporan: Novita










