Jika PDB naik tapi konsumsi masyarakat tak ikut menguat, maka pertanyaannya sederhana: pertumbuhan untuk siapa?
Apakah ekonomi hanya tumbuh di papan laporan, tanpa efek ganda yang nyata bagi kelompok paling rentan?
Kesenjangan antar kelompok pendapatan semakin melebar, dan yang paling menderita adalah mereka yang tak memiliki jaringan sosial atau tabungan untuk bertahan.
Pemerintah seolah lupa bahwa indikator ekonomi bukan hanya tentang data besar. Ada hal-hal kecil yang tak tercatat dalam statistik resmi: ibu rumah tangga yang mengurangi belanja protein, anak-anak yang harus sarapan hanya dengan teh manis, hingga pekerja informal yang mengandalkan utang harian untuk makan. Ini adalah wajah ketimpangan yang nyata, bukan metafora.










