Sudah waktunya pemerintah tidak hanya berbicara tentang angka. Fokus harus bergeser pada pemerataan manfaat ekonomi. Bantuan sosial harus lebih tepat sasaran, dan kebijakan fiskal harus mengutamakan belanja publik yang menyentuh kebutuhan dasar: pangan, pendidikan, dan kesehatan. Infrastruktur penting, tapi dapur rakyat jauh lebih genting.
Masyarakat pun perlu diajak melek terhadap kebijakan. Literasi ekonomi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan agar rakyat bisa kritis dan tidak terjebak pada narasi keberhasilan yang tak mereka rasakan.
Indonesia tidak hanya butuh pertumbuhan ekonomi, tapi pertumbuhan yang adil. Pertumbuhan yang membuat meja makan rakyat kembali berisi, bukan sekadar laporan yang bersih angka. Karena jika dapur rakyat kosong, maka tak ada artinya semua data yang melambung tinggi.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










