NATUNA

Desa Batu Gajah Transformasi Dana Desa Lewat Agrobisnis Jagung

×

Desa Batu Gajah Transformasi Dana Desa Lewat Agrobisnis Jagung

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Desa Batu Gajah Adi Syahdiman meninjau program ketahanan pangan jagung manis berbasis Dana Desa.
Sekretaris Desa Batu Gajah Adi Syahdiman.

“Desa Batu Gajah mengintegrasikan alokasi Dana Desa untuk memperkuat kedaulatan pangan lokal melalui budidaya jagung manis yang dikelola secara profesional oleh BUMDES.”

NATUNA — Sekretaris Desa Batu Gajah Adi Syahdiman mengungkapkan bahwa pemerintah desanya telah berhasil mengeksekusi tiga siklus panen raya jagung di Dusun Sebala sebagai bagian dari implementasi kebijakan ketahanan pangan nasional yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat lokal di Kabupaten Natuna.

“Alhamdulillah kita sudah melakukan panen sebanyak tiga kali di desa. Fokus panennya itu pertanian jagung manis,” ujar Adi Syahdiman kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin, 2 Maret 2026.

Program ini tidak hanya berorientasi pada produktivitas lahan, tetapi juga menerapkan skema Padat Karya Tunai (PKT) guna menyerap tenaga kerja dari warga sekitar, mulai dari fase pengolahan tanah hingga hilirisasi produk.

Langkah strategis Pemerintah Desa Batu Gajah dalam mengamankan rantai pasok pangan dilakukan dengan memanfaatkan lahan masyarakat di Dusun Sebala seluas cakupan kontrak lima tahun. Kerja sama ini berbasis pada social capital di mana pemilik lahan memberikan hak kelola kepada desa tanpa biaya sewa formal, dengan kompensasi berupa pembersihan lahan dan optimalisasi nilai guna tanah.

“Tidak ada perjanjian kontrak berbayar tahunan. Kita memang mendapatkan lokasi yang didukung oleh masyarakat,” jelas Adi terkait status lahan tersebut.

Secara teknis, operasionalisasi program ini diserahkan sepenuhnya kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebagai motor penggerak ekonomi desa.

Berdasarkan regulasi Kementerian Keuangan dan Kementerian Desa, alokasi minimal 20 persen dari Dana Desa (DD) Murni tahun anggaran 2025 telah dialokasikan secara rigid. Total anggaran ketahanan pangan Desa Batu Gajah mencapai Rp145 juta, di mana Rp58 juta difokuskan pada sektor pertanian jagung manis. Sementara itu, sisa anggaran sebesar Rp90 juta diproyeksikan untuk pengembangan sektor peternakan ayam pedaging (broiler) yang mencakup pembangunan infrastruktur kandang hingga pengadaan bibit dan pakan.

Baca Juga:  BPK Minta Cen Sui Lan Tuntaskan Temuan 57 Rumah Dinas Natuna Senilai Rp613 Juta 

Adi juga menjelaskan bahwa masyarakat sangat berperan vital dalam proses menyukseskan program ketahanan pangan ini.

“Kita melibatkan semua masyarakat yang ada di wilayah Desa Batu Gajah untuk bekerja harian dari penggemburan, penanaman, sampai pemanenan,” jelasnya.

Meskipun laporan finansial menunjukkan pendapatan bruto saat ini berada di angka Rp10 juta dari total modal awal, Adi Syahdiman menekankan bahwa nilai keberhasilan program ini terletak pada serapan pasar yang tinggi dan dampak sosialnya. Distribusi hasil panen dilakukan melalui mekanisme pasar terbuka dan bazar desa dengan skema harga kompetitif guna menjamin aksesibilitas pangan murah bagi masyarakat. Namun, tantangan teknis tetap muncul pada siklus panen ketiga akibat anomali cuaca dan tingginya intensitas hujan yang memicu serangan hama ulat. Hal ini kini menjadi basis evaluasi mitigasi risiko pertanian bagi BUMDES ke depan.

Lebih jauh, program ketahanan pangan ini memiliki korelasi linear dengan program penanganan stunting di tingkat desa. Hasil pertanian jagung manis diposisikan sebagai substitusi nutrisi bagi balita, berdampingan dengan intervensi suplemen gizi yang dianggarkan secara khusus untuk memperbaiki nafsu makan dan tumbuh kembang anak. Sinergi ini dipersiapkan untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG), di mana BUMDES dan masyarakat didorong menjadi penyuplai bahan baku pangan mandiri yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus memperkuat ketahanan gizi di wilayah Kecamatan Bunguran Timur.

“Harapan kami dengan adanya ketahanan pangan ini, anak-anak bisa merasakan makanan yang sesuai untuk tumbuh kembang anak. Penanganan stunting kita tidak hanya sebatas dari ketahanan pangan ini, tapi ada juga suplemen-suplemen yang harus kita support,” pungkasnya. (KP).


Laporan : Dhitto


📊 Views: 18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *