KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Dipelihara atau Dibiarkan? Negara Tentukan Siapa yang Berarti

×

Dipelihara atau Dibiarkan? Negara Tentukan Siapa yang Berarti

Sebarkan artikel ini
Wilayah terpencil Indonesia yang terabaikan dengan fasilitas umum rusak dan bendera merah putih usang
Ilustrasi potret kehidupan di wilayah terluar Indonesia dengan infrastruktur rusak dan simbol negara yang mulai pudar.

Apakah Negara Bisa Netral?

Pertanyaan ini penting untuk diajukan. Negara yang katanya berdiri untuk seluruh rakyat justru memperlihatkan bias struktural. Dalam teori structural violence Johan Galtung, kekerasan tidak harus bersifat fisik. Ketika negara gagal menyediakan layanan dasar secara merata, maka ia sedang melakukan kekerasan structural yang sistemik, masif, dan terus-menerus.

Dalam konteks 3T, kekerasan ini terlihat dari:

  • Ketimpangan akses layanan publik.
  • Ketidaksetaraan distribusi proyek infrastruktur.
  • Ketertinggalan partisipasi dalam penyusunan kebijakan.
  • Representasi politik yang minim dan kurang didengar.

Negara Sebagai Aktor yang Memilih

Mengapa ini penting? Karena ini bukan sekadar soal “ketinggalan zaman” atau “kurang pembangunan”. Ini adalah soal bagaimana negara membuat pilihan politik tentang siapa yang pantas dilayani dan siapa yang dibiarkan.

Saat negara secara konsisten menunda pembangunan jalan ke desa-desa di perbatasan, tapi membangun bandara di kota besar yang sudah padat infrastruktur, maka negara sedang membuat pernyataan simbolik bahwa ada wilayah yang lebih “bernilai” dibanding lainnya.

Dengan kata lain, negara bukan hanya membangun jalan atau jembatan, tapi juga membangun hierarki sosial dan geografi politik.

📊 Views: 19
Baca Juga:  Ketika PAD Jadi Ukuran, Daerah 3T Tak Terurus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *