Ini menimbulkan pertanyaan mendasar, efisiensi untuk siapa?
Kesenjangan antara efisiensi negara dan kenyataan di lapangan menunjukkan adanya bias kebijakan. Negara cenderung menyamakan efisiensi dengan pengurangan belanja sosial, padahal sejatinya, efisiensi juga bisa berarti perbaikan tata kelola birokrasi, pemangkasan pengeluaran tidak produktif, atau reformasi belanja aparatur.
Dari sisi masyarakat, adaptasi terhadap krisis dilakukan dengan keterpaksaan. Ibu rumah tangga menyesuaikan menu harian, buruh informal mencari kerja tambahan, dan anak-anak mengorbankan biaya pendidikan untuk kebutuhan pokok. Inilah bentuk resiliensi yang tumbuh bukan karena pilihan, tapi karena ketiadaan opsi.










