KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Ekonomi Pusatistik dan Krisis Kewilayahan: Di Mana Letak 3T dalam Diri Bangsa?

×

Ekonomi Pusatistik dan Krisis Kewilayahan: Di Mana Letak 3T dalam Diri Bangsa?

Sebarkan artikel ini
Suasana desa perbatasan Indonesia yang tertinggal pembangunan, tampak kontras dengan kemajuan pusat kota
Ilustrasi wilayah perbatasan masih kesulitan mendapatkan akses pembangunan yang merata akibat bias pusat dalam kebijakan ekonomi nasional.

Simbolisme Politik: 3T sebagai Retorika

Wilayah 3T sering disebut dalam pidato kenegaraan, rencana pembangunan jangka menengah, hingga iklan kementerian. Namun dalam realitas, mereka lebih sering hadir sebagai simbol dari niat baik negara, bukan penerima hasil yang konkret. Dalam istilah Pierre Bourdieu, ini disebut sebagai capital symbolique di mana 3T digunakan untuk menegaskan moralitas negara, tanpa sungguh-sungguh menghadirkan transformasi struktural.

Retorika tentang “menjaga perbatasan” tidak disertai dengan sistem pelayanan publik yang layak. Klaim tentang “keadilan pembangunan” tidak disertai dengan distribusi fiskal yang setara. Maka yang terjadi adalah bentuk pembohongan simbolik, negara tampak hadir padahal sebenarnya tidak.

Dari Imajinasi ke Integrasi

Bangsa bukan hanya sekumpulan wilayah administratif. Ia adalah konstruksi kolektif yang dibentuk oleh rasa kebersamaan. Wilayah 3T tidak akan menjadi bagian utuh dari bangsa jika mereka terus diperlakukan sebagai yang lain, yang tertinggal, yang dibantu, yang menunggu.

Sudah saatnya negara membalik cara pandangnya: dari membangun yang pusat, ke merajut yang pinggiran. Dari melihat 3T sebagai beban, ke menerima 3T sebagai ruang hidup yang setara dan sah. Karena dalam tubuh bangsa, tak ada bagian yang layak dibiarkan mati rasa.


Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan


📊 Views: 20
Baca Juga:  Narasi Kemajuan Tak Mengisi Perut: Ketimpangan yang Kian Kasatmata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *