Membalik Paradigma: Dari Angka ke Manusia
Kita memerlukan indikator baru yang mengedepankan manusia, bukan sekadar angka. Ketimpangan yang terjadi bukan semata karena dana terbatas, tetapi karena cara pandang yang menyempit. Pemerintah perlu mendengar langsung dari komunitas 3T apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana mereka mengukur kemajuan.
Penting bagi Indonesia untuk mengembangkan indikator berbasis keadilan geografis dan sosial. Misalnya, tingkat keberdayaan komunitas adat, tingkat keterhubungan antar-pulau kecil, atau indeks akses layanan dasar di wilayah terpencil. Tanpa indikator semacam ini, perbatasan akan selalu kalah suara dalam kompetisi angka-angka ekonomi.
Penutup: Siapa yang Layak Dihitung?
Ketika indikator ekonomi mendefinisikan siapa yang layak diperhatikan, maka siapa pun yang tak terukur akan terpinggirkan. Dalam sistem seperti itu, 3T akan terus menjadi objek dari simpati sesaat, bukan subjek dalam kebijakan. Maka pertanyaan pentingnya adalah apakah negara hanya hadir untuk mereka yang bisa menunjukkan grafik naik, atau juga untuk mereka yang hanya bisa bersuara lewat harapan?
Negara yang adil bukanlah negara yang tumbuh cepat, tetapi negara yang mendengarkan semua wilayahnya termasuk yang paling senyap.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










