KABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNASIONALNATUNAPARLEMENTARIAPENDIDIKANSUARA RAKYAT

Ketahanan Pangan dari Perbatasan, HMI Natuna Bangun Sinergi Petani dan Pemerintah

×

Ketahanan Pangan dari Perbatasan, HMI Natuna Bangun Sinergi Petani dan Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Diskusi penyuluhan pertanian oleh HMI Natuna bersama petani dan perwakilan pemerintah di Ranai, Natuna
Potret Ketua HMI Cabang Natuna Aprianti bersama Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Izniadi, S.Sos.

Di sebuah ruang perpustakaan daerah yang tak pernah kehilangan suara buku, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna memulainya dengan sesuatu yang lebih dari sekadar diskusi. Pada Sabtu, 19 Juli 2025, ruang utama Perpustakaan Daerah H. Idrus M. Tahar, Ranai, menjadi locus perjumpaan antara akademisi muda, pengambil kebijakan, dan petani lintas kecamatan dalam satu wacana kolektif yaitu ketahanan pangan dari pinggiran republik.

 

NATUNA – Ketahanan pangan, dalam diskursus pembangunan berkelanjutan, bukan sekadar soal produksi beras atau distribusi pupuk. Ia adalah hasil persilangan antara kebijakan agraria, struktur sosial ekonomi, dan partisipasi komunitas lokal yang kerap dilupakan dalam garis koordinat nasional. HMI Cabang Natuna, sebagai entitas mahasiswa di wilayah perbatasan menyadari premis ini dan memilih terjun langsung ke jantung persoalan yakni membangun komunikasi lintas aktor demi memastikan bahwa pangan bukan hanya tersedia, tetapi juga berdaulat.

Aprianti, Ketua Umum HMI Cabang Natuna, tak ingin kegiatan ini dibaca sebagai sekadar seremoni distribusi bibit atau agenda musiman. Dalam wawancara eksklusif di kantor Koran Perbatasan, Aprianti menjelaskan motivasi mendalam di balik gerakan ini.

“Kami ingin tahu langsung apa yang petani alami. Mereka bukan hanya penghasil pangan, tetapi penjaga keseimbangan ekologis dan ekonomi lokal,” ujar Apri, dengan nada yang lebih filosofis ketimbang politis.

“Petani adalah pahlawan pangan,” lanjutnya. “Dan jika negara ingin kuat, maka mata rantai kehidupannya harus dimulai dari yang paling dasar.”

HMI mengundang dua narasumber utama yaitu Izniadi, S.Sos., Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Natuna, dan Sony Hendriyadhi, S.KM., seorang petani milenial yang menjadi representasi generasi baru dalam sektor pertanian Kepri. Keduanya menyampaikan dua perspektif berbeda namun saling melengkapi, satu dari sisi kebijakan publik dan struktural, satu lagi dari praktik lapangan dan inovasi generasional.

Baca Juga:  ALPENA, HMI, DEMA Galang Dana Pasien

Potret bersama dalam acara bertajuk Penyuluhan Pertanian Di Perbatasan Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Produktivitas Pertanian.

Dalam diskusi yang dikemas dengan gaya partisipatif, para petani dari Kecamatan Bunguran Utara, Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, dan Bunguran Batubi menyampaikan problematika klasik ketersediaan bibit unggul, akses pupuk, minimnya pelatihan teknologi pertanian, serta kendala pemasaran hasil panen. Namun yang lebih penting, mereka mengangkat pertanyaan substansial bagaimana negara bisa hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai mitra dalam ketahanan hidup mereka.

Aprianti menjawab dengan satu kata yang menjadi ideologi organisasinya, Yakusa singkatan dari “Yakin Usaha Sampai.” Bagi HMI, kata itu bukan slogan, melainkan metodologi praksis dalam menjembatani antara aspirasi rakyat dan tanggung jawab negara.

“Kami ingin kader HMI tidak hanya berpikir, tapi juga bertindak,” ungkapnya.

Dengan gaya yang nyaris seperti seminar lintas-disiplin, forum ini menempatkan petani sebagai narasumber utama realitas. Di tengah paparan teknokratik, suara-suara akar rumput tetap menjadi pusat gravitasi percakapan. Dalam sinergi ini, tampak jelas bahwa HMI mencoba meredefinisi posisi organisasi mahasiswa bukan hanya sebagai agen perubahan dalam tataran teoritik, tetapi juga fasilitator transformasi sosial yang konkret.


Potret suasana saat penyambutan dan pengisian daftar kedatangan peserta.

Diskusi berkembang ke arah yang lebih strategis. Izniadi memaparkan pentingnya adaptasi sistem pertanian terhadap iklim tropis pesisir yang dinamis. Sementara itu, Sony menekankan pentingnya digitalisasi pertanian berbasis data sebagai langkah menuju efisiensi dan kesinambungan. Kedua hal ini, jika dikawinkan secara terukur, akan melahirkan model pertanian yang kontekstual, progresif, dan berbasis komunitas.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh lokal seperti Ketua GP Ansor Natuna dan Sekretaris MD KAHMI Natuna. Kehadiran mereka bukan hanya simbol dukungan tetapi juga cermin sinergi antargenerasi yang jarang terjadi dalam ekosistem pembangunan lokal.

Baca Juga:  Rotasi dan Mutasi Pejabat Polda Kepri, Brigjen Anom Wibowo Jabat Wakapolda

Ditanya soal kesinambungan program, Apri menjawab lugas, “Kami ingin kegiatan ini menjadi warisan. Sebuah legacy yang bisa dilanjutkan oleh siapa pun yang percaya bahwa perubahan dimulai dari hal kecil tapi nyata.”

HMI tak ingin bergerak sendirian. Mereka mengupayakan kolaborasi bukan dominasi.

“Kami sadar betul bahwa tanpa partisipasi masyarakat, setiap program hanya akan menjadi formalitas. Maka dari itu, keterlibatan petani bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi subjek aktif pembangunan,” jelas Apri.

Aprianti menutup wawancara dengan harapan sederhana namun substansial. “Kami ingin kegiatan ini membawa keberkahan dan manfaat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ucapnya.

Dari pertemuan itu satu hal menjadi jelas ketahanan pangan tak bisa dipisahkan dari ketahanan relasi antara rakyat dan Pemerintahan, antara teori dan praktik, antara semangat dan sistem. Dan Natuna, dengan segala keterbatasan geografisnya justru menjadi ruang yang paling jujur untuk menguji validitas ide tentang pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. (KP).


Laporan : Dhitto


📊 Views: 18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *