“Pemerintah Desa Limau Manis mengalokasikan 20 persen anggaran desa untuk penyertaan modal BUMDes sektor ayam pedaging guna menopang ketahanan pangan dan peningkatan PADes.”
NATUNA — Sekretaris Desa Limau Manis Sarifudin menegaskan bahwa program ketahanan pangan 2026 difokuskan pada pengembangan peternakan ayam pedaging berbasis penyertaan modal BUMDes sebagai instrumen strategis peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan penguatan kemandirian ekonomi desa di Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna.
Program ketahanan pangan di Desa Limau Manis tahun anggaran 2025–2026 diarahkan secara spesifik pada subsektor peternakan ayam pedaging. Skema yang diterapkan menggunakan model penyertaan modal pemerintah desa kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dengan pengelolaan operasional sepenuhnya berada di bawah kendali BUMDes.
Sarifudin menjelaskan, alokasi anggaran ketahanan pangan mencapai sekitar 20 persen dari total belanja desa atau sekitar Rp135 juta. Dana tersebut digunakan sebagai penyertaan modal untuk pengadaan bibit ayam pedaging yang pada tahap awal mencapai hampir 2.000 ekor.
“Pengelolaan 100 persen dilakukan oleh BUMDes. Pemerintah desa tidak ikut campur dalam operasional, tetapi tetap melakukan fungsi pengawasan bersama masyarakat, kepala desa, dan BPD,” ujarnya kepada koranperbatasam.com saat diwawancarai di Kantor Desa Limau Manis, Selasa, 3 Maret 2026.
Untuk mendukung operasional, BUMDes memanfaatkan lahan milik masyarakat melalui sistem pinjam pakai. Di atas lahan tersebut dibangun kandang dengan pola kerja sama antara BUMDes dan pemilik lahan. Status usaha berada di bawah manajemen BUMDes, sementara kontrak formal masih bersifat kesepakatan kerja sama yang berjalan secara dinamis.
Model ini dinilai sebagai pendekatan adaptif untuk mempercepat realisasi program tanpa membebani desa dalam pengadaan lahan baru. Namun, secara tata kelola, pola tersebut tetap memerlukan penguatan aspek legalitas dan perjanjian kerja sama jangka panjang guna menjaga kepastian hukum usaha.
Sejak 2025 hingga triwulan pertama 2026, usaha ayam pedaging telah mencatat tiga kali panen. Namun, laporan keuangan resmi BUMDes belum disampaikan kepada pemerintah desa. Sesuai kesepakatan, laporan laba-rugi akan dipaparkan dalam musyawarah desa setelah Idulfitri.
“Apakah ada keuntungan atau kerugian, nanti akan dilaporkan secara terbuka di musyawarah desa,” kata Sarifudin.
Target jangka panjang program ini adalah peningkatan PADes secara bertahap agar Desa Limau Manis mampu mengurangi ketergantungan pada transfer anggaran pemerintah. Selain itu, produksi ayam pedaging juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, terutama saat hajatan dan kegiatan adat.
Di tingkat kebijakan, ketahanan pangan desa kerap dikaitkan dengan upaya perbaikan gizi anak dan penanganan stunting. Pemerintah Desa Limau Manis mengakui bahwa arah kebijakan tersebut selaras dengan strategi pembangunan sumber daya manusia.
Namun, implementasi integratif dengan program penanganan stunting belum berjalan optimal. Sebelumnya, desa rutin menganggarkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita. Akan tetapi, sejak program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berjalan, desa tidak lagi diperkenankan menganggarkan PMT karena menghindari duplikasi pembiayaan dari sumber dana pemerintah.
Ke depan, Pemerintah Desa Limau Manis berencana menjajaki kerja sama antara BUMDes dan pengelola SPPG agar hasil produksi ayam pedaging dapat disalurkan untuk mendukung pemenuhan gizi balita, posyandu, dan PAUD.
“Harapan kami, ketahanan pangan ini tidak hanya meningkatkan PADes, tetapi juga mendukung perbaikan gizi anak-anak agar terhindar dari stunting,” harapnya.
Dalam skema ini, BUMDes memegang peran sentral mulai dari pengadaan bibit, pemeliharaan, hingga pemasaran. Pemerintah desa menekankan pentingnya profesionalisme pengelolaan agar usaha berkelanjutan dan mampu menjadi sumber ekonomi produktif.
“BUMDes harus maksimal. Kunci keberhasilan ketahanan pangan ada di pengelolaan yang baik. Jika berjalan konsisten, PADes akan meningkat dan desa menuju kemandirian,” pungkasnya.
Program ketahanan pangan berbasis BUMDes di Desa Limau Manis kini menjadi indikator penting efektivitas tata kelola ekonomi desa, sekaligus ujian kapasitas manajerial BUMDes dalam mengonversi penyertaan modal menjadi pertumbuhan ekonomi riil. (KP).
Laporan : Dhitto










