“Pemerintah Desa Limau Manis mengalokasikan lebih dari Rp100 juta untuk memperkuat intervensi stunting melalui posyandu, PMT, dan kolaborasi lintas sektor.”
NATUNA — Sekretaris Desa Limau Manis Sarifudin menegaskan bahwa intervensi stunting tahun 2025-2026 di Desa Limau Manis difokuskan pada penguatan posyandu, pemberian makanan tambahan (PMT), serta kolaborasi aktif dengan Puskesmas dan Dinas Kesehatan guna menekan prevalensi kasus di wilayah Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna.
Upaya menekan dan meminimalisir angka stunting di Desa Limau Manis dilakukan melalui pendekatan sistematis berbasis pelayanan kesehatan masyarakat. Pemerintah desa menganggarkan hampir Rp60 juta secara khusus untuk program stunting, sementara total dukungan anggaran, termasuk insentif kader, operasional posyandu, dan PMT, mencapai kisaran Rp100 juta hingga Rp108 juta.
Program berjalan rutin setiap bulan melalui posyandu balita, lansia, remaja, PAUD, dan kelompok TPQ. Setiap kegiatan posyandu menjadi kanal distribusi intervensi gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak.
“Kami menyediakan dana posyandu dan PMT sebagai langkah pencegahan stunting. Kegiatan berjalan setiap bulan, dan kader bekerja sama dengan ahli gizi Puskesmas untuk menentukan jenis makanan tambahan yang tepat,” ujar Sarifudin kepada koranperbatasam.com di Kantor Desa Limau Manis, Selasa, 3 Maret 2026.
Secara kebijakan, penanganan stunting juga dibahas dalam forum Rembuk Stunting tahunan serta program Kampung KB. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi dan perencanaan strategis terkait pola intervensi, pemetaan kasus, serta penguatan edukasi masyarakat.
Pemerintah desa berkolaborasi dengan kader posyandu, tenaga kesehatan Puskesmas melalui ahli gizi kecamatan, serta pemerintah kabupaten khususnya Dinas Kesehatan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan. Model kolaboratif ini dirancang untuk memastikan intervensi tidak berjalan parsial.
Berdasarkan pemetaan internal desa, sebaran kasus stunting tertinggi berada di Dusun 2 Desa Limau Manis. Wilayah tersebut menjadi fokus penguatan edukasi dan pendampingan keluarga.
Tantangan terbesar bukan semata pada anggaran, melainkan pada partisipasi masyarakat. Edukasi publik masih menjadi pekerjaan rumah utama. Sebagian orang tua dinilai kurang memahami urgensi posyandu dan pemeriksaan rutin.
“Ada orang tua datang ke posyandu, tetapi tidak membawa balitanya. Kader akhirnya melakukan kunjungan langsung ke rumah. Bahkan ada yang menolak atau marah. Itu tantangan nyata di lapangan,” ungkapnya.
Mekanisme penyaluran bantuan gizi dilakukan melalui pertemuan posyandu bulanan. Anak dengan kategori stunting menerima porsi lebih dibandingkan anak dengan status gizi normal. Skema diferensiasi ini disusun berdasarkan rekomendasi ahli gizi.
Sebagai contoh, jika anak normal menerima satu porsi buah, anak kategori stunting dapat menerima dua porsi sebagai bentuk prioritas intervensi. Kebijakan tersebut tetap dilaksanakan secara proporsional agar tidak menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat.
Program ini sepenuhnya gratis bagi masyarakat dengan kepesertaan BPJS Kesehatan. Pemerintah desa menekankan bahwa layanan kesehatan preventif tersebut merupakan hak publik yang telah difasilitasi negara.
Sarifudin mengakui beban kerja kader posyandu cukup berat. Meski desa telah memberikan insentif, nominalnya dinilai belum sebanding dengan kompleksitas tugas, mulai dari pendataan, distribusi PMT, hingga pendekatan sosial ke keluarga yang kurang kooperatif.
“Kader bekerja di lapangan dengan tantangan sosial yang tidak ringan. Namun, mereka tetap menjadi garda terdepan pencegahan stunting,” katanya.
Pemerintah Desa Limau Manis berharap partisipasi masyarakat meningkat dalam setiap kegiatan posyandu dan pemeriksaan kesehatan. Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah dan pusat diharapkan tetap konsisten, khususnya dalam pembiayaan layanan kesehatan preventif yang bersifat gratis.
“Program stunting ini sangat baik untuk masa depan anak-anak kita. Kami berharap masyarakat aktif berpartisipasi, dan pemerintah tetap mendukung seperti tahun-tahun sebelumnya,” tutup Sarifudin.
Intervensi stunting di Desa Limau Manis kini menjadi barometer komitmen desa dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis komunitas. (KP).
Laporan : Dhitto










