“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Bunguran Timur dinilai memberikan dampak positif terhadap siswa, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi hingga mendukung aktivitas belajar di sekolah.”
NATUNA — Kepala SMKN 1 Bunguran Timur, Subbihi, M.Pd., menilai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan manfaat nyata bagi peserta didik serta mendukung terciptanya kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.
Subbihi menjelaskan, penerapan Program MBG di SMKN 1 Bunguran Timur dilakukan melalui sejumlah tahapan agar proses penerimaan hingga pendistribusian makanan kepada siswa berjalan tertib, higienis, dan sesuai prosedur.
Menurutnya, tahap awal dimulai dari persiapan kedatangan makanan. Pihak sekolah terlebih dahulu melakukan absensi siswa untuk memastikan jumlah penerima manfaat sesuai dengan data sebelum makanan dibagikan.
“Makanan diterima sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, lalu petugas kami melakukan pengecekan kesesuaian menu dan jumlah makanan yang datang dengan jumlah siswa,” ujar Subbihi kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai melalui WhatsApp, Sabtu (20/6/2026).
Setelah proses pemeriksaan selesai, lanjut Subbihi, makanan kemudian didistribusikan kepada siswa melalui petugas yang telah ditentukan menuju titik pembagian yang tersedia di lingkungan sekolah.
“Siswa diberikan makanan secara tertib dan teratur. Sebelum makan, siswa juga diinstruksikan untuk mencuci tangan terlebih dahulu,” jelasnya.
Ia mengatakan, penerapan pola tersebut dilakukan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi siswa tetap higienis serta sesuai dengan tujuan utama Program MBG dalam membangun kebiasaan sehat.
Selain menerima makanan, para siswa juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi bagi tubuh sebelum kegiatan makan bersama dimulai.
“Kegiatan makan diawali dan diakhiri dengan doa. Siswa diberikan durasi waktu tertentu, umumnya sekitar 30 menit untuk menyantap makanan,” katanya.
Usai kegiatan makan selesai, siswa diarahkan membersihkan sisa makanan dan mengumpulkan kembali wadah atau ompreng pada tempat yang sudah disediakan.
“Setelah selesai, siswa mengumpulkan sisa makanan dan kemasan ke tempat yang telah disediakan. Wadah atau ompreng dikumpulkan kembali di lobi untuk diambil oleh pihak SPPG,” terangnya.
Terkait antisipasi risiko alergi makanan, Subbihi menyampaikan pihak sekolah telah melakukan pemetaan sejak awal melalui data profil kesehatan siswa.
Formulir tersebut berisi riwayat kesehatan termasuk kemungkinan alergi terhadap bahan makanan tertentu seperti susu, kacang, maupun makanan laut.
“Alhamdulillah siswa kami tidak ada yang alergi makanan. Menurut saya tidak ada tantangan karena MBG merupakan salah satu edukasi buat siswa dalam mewujudkan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, salah satunya makan makanan bergizi,” ungkapnya.
Subbihi menyebutkan, sejauh ini pelaksanaan Program MBG di SMKN 1 Bunguran Timur berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi lingkungan pendidikan.
Menurutnya, orang tua merasa lebih tenang karena kebutuhan makan siang anak mereka telah terpenuhi. Sementara guru juga merasakan suasana pembelajaran menjadi lebih fokus.
“Dampak MBG menurut saya baik, karena orang tua tahu anaknya sudah makan saat siang. Begitu juga guru, aktivitas belajar semakin fokus karena anak-anak tidak repot membeli jajanan,” ucapnya.
Meski berjalan baik, pihak sekolah tetap memiliki ruang koordinasi dan evaluasi bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) apabila ditemukan kendala di lapangan.
“Sekolah boleh komplain jika menu tidak sesuai, terjadi keterlambatan, atau ompreng belum dijemput. Petugas kita bisa langsung melakukan konfirmasi dengan pihak SPPG,” tegasnya.
Ke depan, Subbihi berharap sinergi antara sekolah dan SPPG semakin optimal dalam mendukung terwujudnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Ia juga berharap pemanfaatan bahan pangan lokal Natuna, terutama hasil laut segar, dapat terus dimaksimalkan agar kualitas nutrisi semakin baik sekaligus mendukung perekonomian masyarakat.
“Semoga SPPG tetap konsisten menjaga standar higienitas dan nutrisi, terlepas dari tantangan geografis di wilayah kepulauan,” harapnya.
Selain sebagai penyedia makanan, Subbihi berharap keberadaan SPPG dapat menjadi mitra sekolah dalam memberikan edukasi pola hidup sehat bagi generasi muda.
“SPPG diharapkan tidak hanya menjadi penyedia makanan, tetapi juga mitra edukasi bagi siswa mengenai pentingnya pola makan sehat, sehingga program ini memberikan dampak jangka panjang bagi tumbuh kembang generasi muda Natuna,” pungkasnya.
Laporan: Dini










