Bahkan dalam beberapa kasus, dana disalurkan untuk proyek yang jauh dari kebutuhan warga. Contohnya, pembangunan taman mahal di tengah kota yang hanya dinikmati segelintir orang, sementara jalan desa rusak bertahun-tahun.
Ironi ini terus berulang dari tahun ke tahun. Pemerintah pusat dan daerah sering berlomba-lomba membanggakan besarnya anggaran, tapi lupa bahwa rakyat tidak menilai dari besarannya melainkan dari hasil nyatanya.
Apa gunanya rencana besar jika rakyat tetap harus bayar mahal untuk berobat? Apa arti proyek ambisius jika sekolah-sekolah di pelosok masih minim fasilitas?
Sudah saatnya paradigma anggaran berubah. Fokusnya bukan sekadar menyerap dana, tetapi memastikan setiap rupiah menghasilkan manfaat nyata. Anggaran harus dikawal dari hulu ke hilir, dari perencanaan hingga pengawasan. Masyarakat harus dilibatkan, dan laporan harus bisa diakses serta dipahami publik.
Kita tidak butuh angka mewah jika kenyataan di lapangan tetap payah. Yang kita butuhkan adalah keberanian pemerintah untuk menata ulang prioritas: dari proyek pencitraan ke pelayanan publik yang benar-benar membaik.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










