KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Antara Gengsi dan Nasi: Mengapa Kita Gagal Mengatur Keuangan

×

Antara Gengsi dan Nasi: Mengapa Kita Gagal Mengatur Keuangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tas belanja berisi barang mewah di samping beras dan mie instan, menggambarkan ketimpangan antara gaya hidup konsumtif dan kebutuhan pokok yang sering diabaikan.

DI TENGAH naiknya harga kebutuhan pokok dan stagnannya pendapatan, kita dihadapkan pada ironi besar: pengeluaran konsumtif yang tak kunjung surut. Seakan-akan gengsi menjadi prioritas, sementara kebutuhan dasar justru sering diabaikan. Pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: mengapa kita gagal mengatur keuangan?

Fenomena ini tak hanya terjadi di kota besar, tapi juga merambah hingga pelosok dan daerah perbatasan. Tak sedikit yang rela mengangsur smartphone mahal, nongkrong di kafe saban pekan, atau belanja barang bermerek, sementara untuk beras, minyak goreng, atau biaya sekolah anak masih mengandalkan pinjaman.

Gengsi menjadi penyakit sosial baru. Kita hidup dalam bayang-bayang pencitraan. Media sosial memperkuat dorongan untuk tampil meyakinkan, walau isi dompet berkata lain. Akibatnya, banyak orang lebih takut terlihat sederhana daripada hidup dalam tekanan finansial.

Namun ini bukan sekadar soal perilaku konsumsi. Ada akar masalah yang lebih dalam: minimnya literasi keuangan dan kegagalan memahami prioritas. Banyak keluarga yang tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Makan enak dan terlihat sukses menjadi standar hidup, bukan kecukupan atau ketahanan finansial.

Sayangnya, sistem pun seolah mendukung gaya hidup semu ini. Akses kredit tanpa edukasi, layanan paylater yang menjebak, hingga iklan yang menyamar sebagai aspirasi hidup, memperparah situasi. Akibatnya, utang konsumtif meningkat, simpanan tak ada, dan setiap kenaikan harga membuat masyarakat goyah.

Apakah kita terlalu konsumtif? Sebagian iya. Tapi kita juga korban dari sistem yang tidak membekali kita dengan pengetahuan dasar soal keuangan sejak dini. Di sekolah, pelajaran tentang ekonomi rumah tangga jarang disentuh. Di lingkungan sekitar, menabung kadang masih dianggap sebagai “hal yang nanti saja”.

Solusi jangka pendek? Perlu revolusi cara pandang. Berani hidup sesuai kemampuan adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya. Mengelola uang bukan tentang pelit, tapi tentang menjaga agar kita tidak terjerumus pada kemiskinan struktural akibat keputusan harian yang salah.

Baca Juga:  Kekuasaan Simbolik APBN: 3T Sekadar Nama tanpa Peran

Pemerintah dan lembaga keuangan harus lebih serius dalam mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda. Program literasi keuangan harus menyentuh ruang-ruang digital di mana konsumsi dipicu. Dan media, termasuk Koran Perbatasan, harus jadi garda depan menyuarakan pentingnya perubahan ini.

Karena pada akhirnya, kehidupan yang layak bukan ditentukan oleh seberapa mewah kita terlihat, tapi seberapa stabil kita bisa bertahan. Di antara gengsi dan nasi, pilihlah yang menjamin kelangsungan hidup, bukan sekadar pujian sesaat.


Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan


📊 Views: 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *