KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Menyesuaikan Diri di Tengah Tekanan: Saat Rakyat Dipaksa Bertahan Sendiri

×

Menyesuaikan Diri di Tengah Tekanan: Saat Rakyat Dipaksa Bertahan Sendiri

Sebarkan artikel ini
Catatan anggaran rumah tangga dengan coretan defisit mencerminkan tekanan ekonomi yang memaksa warga menyesuaikan diri tanpa dukungan optimal.

DALAM situasi ideal, negara hadir memberi perlindungan saat rakyat terdesak. Namun dalam beberapa waktu terakhir, terutama setelah gelombang efisiensi anggaran besar-besaran, realita justru berkata sebaliknya: rakyat seperti dibiarkan menyesuaikan diri sendiri di tengah tekanan ekonomi yang tak kunjung reda.

Harga kebutuhan pokok merangkak naik, tarif layanan publik ikut terdongkrak, sementara subsidi justru dipangkas. Di meja-meja makan keluarga kecil, perhitungan ulang pengeluaran jadi rutinitas harian. Bukan lagi soal menabung atau investasi, tapi bagaimana caranya agar cukup hingga akhir bulan.

Pemerintah memang punya alasan kuat: menyehatkan APBN, menjaga keseimbangan fiskal, serta menghindari defisit jangka panjang. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kebijakan efisiensi ini mempertimbangkan daya tahan ekonomi rumah tangga rakyat biasa?

Di lapangan, banyak warga mulai mengandalkan utang mikro, belanja dicicil, bahkan terjebak dalam jebakan “gali lubang tutup lubang” untuk sekadar memenuhi kebutuhan harian. Fenomena ini bukan isapan jempol. Beberapa lembaga survei mencatat peningkatan penggunaan layanan paylater dan pinjaman daring, terutama di kalangan kelas pekerja dan ibu rumah tangga.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat dipaksa untuk semakin adaptif. Sayangnya, literasi keuangan masih rendah. Banyak yang belum memahami bagaimana menyusun prioritas pengeluaran, mengelola utang sehat, atau sekadar membedakan kebutuhan dan keinginan. Tanpa pendampingan dan edukasi, adaptasi justru bisa menjerumuskan.

Di sisi lain, peran negara seharusnya tidak berhenti pada penghematan. Perlu langkah konkret untuk memastikan bahwa masyarakat tidak hanya diberi informasi soal pengurangan subsidi, tapi juga solusi untuk menghadapinya. Misalnya dengan memperluas jangkauan program pemberdayaan ekonomi, pelatihan keuangan keluarga, hingga fasilitasi UMKM agar bisa bertahan.

Rakyat tidak butuh dikasihani. Mereka hanya butuh diposisikan sebagai mitra dalam pemulihan. Jika negara melakukan efisiensi, rakyat pun melakukan penyesuaian. Namun adilkah jika satu pihak berhemat dengan mengorbankan sisi lain yang justru paling rentan?

Baca Juga:  Kota Dapat Prioritas, Perbatasan Dapat Sisa

Bertahan di tengah tekanan ekonomi bukan perkara mudah. Tapi dengan kehadiran negara yang benar-benar peduli dan berpihak, setidaknya rakyat tidak merasa berjalan sendirian.


Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan


📊 Views: 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *