Ketika lapisan terbawah masyarakat tidak merasakan manfaat dari geliat ekonomi, maka pertumbuhan itu tidak inklusif, ia eksklusif dan membahayakan.
Lebih ironis lagi, pemerintah sering menjadikan angka-angka pertumbuhan sebagai tameng terhadap kritik sosial. Ketika rakyat mengeluh soal tingginya biaya hidup, jawabannya adalah bahwa “ekonomi kita sedang baik-baik saja”. Padahal realita di pasar dan warung-warung kecil berkata lain.
Sudah saatnya kita mengganti cara pandang. Pembangunan ekonomi seharusnya dimulai dari bawah dari perut rakyat, dari akses kesehatan yang merata, dari ketersediaan lapangan kerja yang layak, bukan semata dari proyek infrastruktur besar atau arus modal asing.
Jika negara ingin disebut berhasil, maka indikator keberhasilannya adalah kepuasan rakyat, bukan sekadar angka-angka makroekonomi.
Kita membutuhkan narasi baru dalam melihat ekonomi: bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal pertumbuhan, tapi soal keberpihakan. Bahwa yang harus dikejar bukan hanya angka, tapi kesejahteraan yang bisa dirasakan oleh semua.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










