NATUNA — Ketua Serikat Pedagang Kaki Lima Pantai Piwang (Sri Panglima), Bujang Sudirman, mengapresiasi langkah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna yang terus melibatkan para pedagang dalam kegiatan gotong royong dan menjaga kebersihan kawasan Taman Bermain Sri Panglima.
Menurut Bujang, keterlibatan pedagang dalam kegiatan kebersihan bukan hal baru. Setiap kali DLH menyampaikan imbauan maupun menggelar gotong royong, pihaknya berupaya mengajak para pedagang untuk ikut berpartisipasi.
“Kami berterima kasih atas perhatian DLH kepada kami para pedagang. Setiap ada imbauan atau kegiatan, kami selalu berusaha hadir dan membantu,” kata Bujang saat ditemui di kawasan Taman Bermain Sri Panglima, Natuna.
Bujang mengatakan koordinasi dengan para pedagang dilakukan melalui grup komunikasi internal. Menurutnya, selama ini hubungan antara pengurus pedagang dan DLH berjalan baik dalam mendukung kebersihan kawasan tersebut.
Di sisi lain, Bujang menyoroti masih rendahnya kesadaran sebagian pengunjung dalam membuang sampah pada tempatnya. Padahal, menurut dia, petugas DLH telah bekerja dengan sistem shift untuk membersihkan kawasan taman sejak pagi hingga sore.
Ia menilai persoalan kebersihan tidak semestinya hanya dibebankan kepada petugas DLH. Kondisi taman yang kembali dipenuhi sampah setelah dibersihkan menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga fasilitas umum.
“Pagi mereka menyapu, tengah hari dan sore berganti shift. Begitu malam sampai pagi, sampah sudah berserakan lagi. Saya kasihan melihat petugas DLH, karena ketika sampah menumpuk yang disorot hanya sampahnya, sementara pekerjaan mereka membersihkan taman jarang dilihat,” ungkapnya.
Bujang juga meminta pemberitaan mengenai persoalan kebersihan dilakukan secara berimbang. Menurutnya, kondisi sampah di lapangan tetap perlu diberitakan sebagai bentuk kontrol sosial, tetapi kerja petugas kebersihan serta faktor perilaku pengunjung juga perlu mendapat perhatian.
“Saya tidak menyalahkan media. Tapi sisi positifnya juga dicari, jangan negatifnya saja supaya balance. Kita sama-sama memberikan solusi,” ujarnya.
Tidak hanya membela petugas DLH, Bujang mengatakan pihaknya juga menerapkan tanggung jawab kebersihan kepada para pedagang. Setiap pedagang diminta membersihkan area sekitar gerobak masing-masing sebelum meninggalkan lokasi.
Bujang bahkan mengaku rutin melakukan pengecekan pada malam hari untuk memastikan tidak ada sampah berserakan di sekitar tempat usaha anggota.
“Setiap gerobak yang berdiri di sini, malamnya harus bersih. Saya tekankan langsung kepada pemilik gerobak. Saya juga selalu cross-check setiap malam,” katanya.
Menurut Bujang, kebersihan Taman Sri Panglima hanya dapat terwujud apabila pemerintah, petugas kebersihan, pedagang, pengunjung, masyarakat, dan media menjalankan peran masing-masing.
Ia berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga fasilitas publik yang menjadi tempat rekreasi sekaligus lokasi masyarakat mencari nafkah tersebut dapat terus terjaga.
“Kalau kita berjualan makanan tetapi lingkungan penuh dengan sampah tentu tidak baik. Karena itu, kebersihan harus menjadi tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (KP)
Laporan: Dini










