“Kepala SMKN 1 Bunguran Timur mengibaratkan pesantren kilat sebagai buah segar yang menyejukkan jiwa dan memperkuat karakter siswa.”
Kepala Sekolah SMKN 1 Bunguran Timur Kabupaten Natuna, Subbihi, M.Pd., menyebut pelaksanaan pesantren kilat di sekolahnya laksana buah segar yang menyegarkan, saat dikonfirmasi di sela-sela penutupan kegiatan dan buka puasa bersama, Jumat (27/2/2026).
NATUNA – Subbihi menjelaskan bahwa pesantren kilat memberikan suasana baru yang menyenangkan dan menenangkan di tengah kesibukan siswa sekolah vokasi. Kegiatan yang digelar sejak awal masuk sekolah pada Ramadan 1447 Hijriah itu dinilai mampu memupuk pemahaman agama secara lebih mendalam.
Menurutnya, memahami agama sejak dini akan membantu siswa tetap teguh dan kuat dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Pendidikan agama, kata dia, memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan karakter, seperti nilai kejujuran, aqidah, ibadah, kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap moral lainnya.
Ketua MKKS SMK/SMA/SLB Kabupaten Natuna tersebut kemudian memberikan analogi buah dalam menggambarkan esensi pesantren kilat.
“Ketika beranalogi pada buah, maka buah memiliki kulit, memiliki isi, dan menyimpan rasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, “kulit buah” dianalogikan sebagai Ilmu Fiqih, yang bukan sekadar hafalan hukum tentang boleh dan tidak boleh, melainkan panduan praktis agar setiap gerak-gerik sebagai Muslim bernilai ibadah dan sesuai syariat.
Kemudian “isi buah” dianalogikan sebagai Ilmu Ushuluddin atau aqidah/tauhid, yang menjadi fondasi keyakinan untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah, membentengi diri dari kesyirikan, serta memberikan ketenangan batin dalam menghadapi cobaan hidup.
Sementara “rasa buah” dianalogikan sebagai ilmu tasawuf, yang berperan sebagai penyuci jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembentuk akhlak mulia. Ilmu ini, menurutnya, menghadirkan ketenangan batin, pengendalian diri dari hawa nafsu, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melalui momentum pesantren kilat Ramadan tahun ini, Subbihi berharap seluruh peserta didik dan segenap civitas akademika SMKN 1 Bunguran Timur dapat mengambil iktibar dari analogi tersebut, yakni sinergi antara kulit, isi, dan rasa.
“Untuk pendidikan karakter yang paling utama adalah pendidikan agama. Semakin baik penerapan nilai agama seseorang, maka baik pula perilakunya,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendidikan etika dan moral juga sangat diperlukan dalam menciptakan keselarasan dan keharmonisan hidup bermasyarakat dan bernegara. (KP).
Laporan: Dini










