“Seorang peternak ayam kampung di Natuna mengaku kesulitan mendapatkan akses modal usaha untuk mengembangkan ternaknya, meski telah lama berusaha secara mandiri.”
Pemilik ternak ayam kampung di Setedung, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Siti Ngaisah, mengaku kesulitan memperoleh akses pinjaman modal usaha untuk mengembangkan ternak ayam kampung yang ia jalankan sebagai persiapan menghadapi masa tua.
NATUNA – Sejumlah pelaku usaha kecil di daerah masih menghadapi kendala dalam memperoleh akses permodalan untuk mengembangkan usaha. Kondisi tersebut juga dirasakan oleh Siti Ngaisah, pemilik ternak ayam kampung di wilayah Setedung, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna.
Siti Ngaisah mengaku ingin mengembangkan usaha ternak ayam kampung yang selama ini dijalankan secara sederhana. Namun hingga kini ia belum mengetahui jalur yang dapat ditempuh untuk mendapatkan bantuan modal usaha.
“Bagaimana cara mengajukan pinjaman modal untuk membeli alat penetasan dan menambah bibit ayam petelur, Bang? Saya ingin usaha untuk menghadapi masa tua. Tapi saya tidak tahu jalurnya,” ujarnya dalam pesan WhatsApp yang disampaikan kepada redaksi Koran Perbatasan, Sabtu (14/03/2026).
Menurutnya, informasi terkait program bantuan usaha dari pemerintah masih sangat terbatas di tingkat masyarakat desa. Ia mengaku belum pernah mendapatkan arahan terkait akses permodalan dari lingkungan sekitar.
“Dari desa, RT, atau RW pun tidak ada yang mengajukan atau memberi tahu bagaimana caranya supaya warga bisa hidup mandiri. Kami bahkan program pinjaman seperti Mekar pun tidak dapat,” ungkapnya.
Meski demikian, Siti Ngaisah tetap berusaha menjalankan usaha ternak ayam kampung dengan memanfaatkan modal pribadi yang terbatas.
Ia mengatakan kandang ayam yang dimiliki saat ini dibangun secara sederhana dengan memanfaatkan bahan bekas.
“Kandangnya saya buat dari bahan bekas rumah yang dijual orang. Atapnya pakai seng bekas sekitar dua kodi setengah, samping kandang satu kodi. Kayu bulat dan bambu bekas juga saya gunakan. Pembuatannya lebih kurang satu bulan, semua dari modal pribadi,” jelasnya.
Menurut Siti Ngaisah, wilayah tempat tinggalnya sebenarnya memiliki potensi bahan pakan ternak yang cukup melimpah.
“Di daerah kami ada kelapa, ada sagu, ada ubi, bahkan kepala bilis juga ada. Itu sebenarnya bisa jadi bahan makanan ayam. Yang penting ada modal untuk mengembangkan usaha,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa sistem usaha yang dijalankan saat ini masih sederhana. Bibit ayam dibeli dari masyarakat, kemudian dipelihara hingga sebagian dijual kembali kepada pembeli atau warung.
“Penjualannya berkala. Kita beli dari masyarakat, kemudian kita sortir. Yang jantan bisa dijual kembali ke warung atau ke orang yang membutuhkan,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap dapat mengembangkan usaha ternaknya secara lebih serius jika mendapatkan tambahan modal.
Menurutnya, modal tersebut akan digunakan untuk memperbanyak bibit ayam, memperbaiki kandang, membuat sumur, serta membeli alat penetas telur.
“Kalau bisa dapat modal, pertama saya ingin memperbanyak bibit. Kedua membuat cincin sumur dan memperbaiki kandang. Ketiga membeli alat tetas telur ayam, serta menyiapkan mesin air dan selang untuk membersihkan kandang,” jelasnya.
Selain itu, ia juga berencana membuka lahan kecil untuk menanam pakan ternak seperti ubi kayu, kangkung, dan sayuran lain yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam.
Siti Ngaisah juga berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, khususnya melalui dinas terkait, agar para peternak kecil mendapatkan pendampingan usaha.
“Mudah-mudahan kami bisa bekerja sama dengan dinas peternakan supaya kami mendapat pemahaman tentang beternak dan mengembangkan usaha kecil sampai menengah,” harapnya. (KP).
Laporan: Red










