“Perayaan Hari Raya Idul Adha di Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna menjadi momentum memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan meningkatkan ketakwaan melalui ibadah kurban.”
Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna, Kyai Budi Nurhamid, S.Pd.Gr., mengatakan pelaksanaan ibadah kurban tahun ini berlangsung penuh kekeluargaan dengan melibatkan santri, guru, orang tua wali, serta masyarakat sekitar pondok.
NATUNA – Suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan terasa dalam perayaan Hari Raya Idul Adha di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna.
Seluruh santri tetap berada di lingkungan pondok untuk mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari mengumandangkan takbir bersama, penyembelihan hewan kurban, hingga kegiatan bakar sate bersama.
Pada pelaksanaan Idul Adha tahun ini, Pondok Pesantren Nurul Jannah menyembelih sebanyak dua ekor sapi. Jumlah tersebut masih sama seperti pelaksanaan kurban pada tahun sebelumnya.
Satu ekor sapi merupakan amanah kurban dari majelis guru bersama orang tua wali santri. Sementara satu ekor lainnya berasal dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI).
Dari hasil penyembelihan tersebut, total daging kurban yang terkumpul mencapai 158 kilogram. Dengan rincian 83 kilogram dari sapi kurban majelis guru dan orang tua wali santri, serta 75 kilogram dari sapi kurban STAI.
Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jannah Natuna, Kyai Budi Nurhamid, S.Pd.Gr., menjelaskan seluruh daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar lingkungan pondok dan para santri.
Selain pembagian daging kurban, para santri juga mengikuti kegiatan bakar sate bersama. Namun berbeda dari tahun sebelumnya, kegiatan tersebut tidak lagi dikemas dalam bentuk perlombaan.
Menurutnya, pihak pesantren ingin lebih mengedepankan nilai kebersamaan dibandingkan persaingan antar kelompok.
“Tahun ini yang paling utama adalah kebersamaan. Semua anak-anak merasakan hal yang sama, kalau dagingnya sedikit maka sama-sama makan sedikit, kalau banyak maka sama-sama makan banyak. Artinya, tidak ada lagi perlombaan, yang ada hanyalah rasa kekeluargaan,” ujar Budi kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di lingkungan pesantren, Minggu (31/5/2026).
Budi menjelaskan, kegiatan bakar sate tersebut tetap dilakukan secara berkelompok berdasarkan kelas. Seluruh santri berbaur untuk memasak dan menikmati hasil kurban secara bersama-sama.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepada Pondok Pesantren Nurul Jannah untuk mengelola penyembelihan hewan kurban.
“Terima kasih kepada masyarakat yang turut serta memberikan kurbannya di Pondok Pesantren Nurul Jannah. Semoga menjadi ibadah kurban yang diterima Allah SWT dan diberikan pahala yang berlipat ganda,” ucapnya.
Lebih lanjut, Budi menyampaikan bahwa ibadah kurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi memiliki makna besar dalam membentuk kepribadian manusia agar semakin bertakwa kepada Allah SWT.
Menurutnya, momentum kurban harus menjadi pengingat untuk menghilangkan berbagai sifat buruk dalam diri manusia.
“Secara umum pesan dari kurban ini adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, kemudian menyembelih sifat-sifat hewani yang ada dalam diri kita,” jelasnya.
“Hewan tidak mengenal halal dan haram, maka kita sebagai manusia harus membuang sifat tersebut. Begitu juga sifat sombong dan serakah harus kita hilangkan dari dalam diri kita,” tambahnya.
Di akhir wawancara, Budi berharap kekompakan antara guru, orang tua wali santri, dan masyarakat dapat terus terjaga sehingga pelaksanaan kurban ke depan semakin meningkat.
“Semoga ke depan di Nurul Jannah, para guru, orang tua wali, dan semuanya semakin kompak sehingga jumlah kurban bisa lebih banyak. Jika semakin banyak, tentu manfaatnya kepada masyarakat juga semakin luas,” tutupnya.
Laporan: Dini










