“SLB Negeri Natuna menerapkan sistem ujian khusus dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa. Penilaian tidak hanya berfokus pada angka, tetapi lebih mengutamakan perkembangan, kemandirian, dan pertumbuhan anak berkebutuhan khusus.”
Wakil Kepala Bidang Kurikulum SLB Negeri Natuna, Semiati, S.Pd.Gr., mengatakan pelaksanaan Ujian Semester Genap berjalan tertib dan lancar selama dua minggu dengan mekanisme khusus yang disesuaikan kondisi geografis daerah kepulauan serta kebutuhan peserta didik.
NATUNA — Pelaksanaan Ujian Semester Genap di SLB Negeri Natuna berlangsung lancar dan kondusif. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, pelaksanaan ujian menerapkan sistem khusus dengan mempertimbangkan kondisi geografis serta kebutuhan masing-masing siswa.
Waka Kurikulum SLB Negeri Natuna, Semiati, S.Pd.Gr., menjelaskan pelaksanaan ujian dilakukan selama dua minggu dengan pembagian dua rute secara bergantian.
Pada minggu pertama, ujian difokuskan untuk rute Tanjung. Sedangkan minggu kedua dilanjutkan bagi siswa yang berada di rute Cemaga.
Menurutnya, sistem tersebut diterapkan karena jarak tempuh yang cukup jauh sehingga tidak memungkinkan seluruh rute dijalankan secara bersamaan dalam satu waktu.
“Alhamdulillah selama ujian ini berjalan dengan lancar. Siswa pun mengikuti ujian dengan semangat. Kalau untuk mekanismenya seperti biasa, kami tetap membuat panitia ujian. Minggu pertama kemarin rute Tanjung sudah selesai, dan minggu kedua ini rute Cemaga. Tetap diantar jemput,” ujarnya kepada koranperbatasan.com saat ditemui di ruang TU, Rabu (10/6/2026).
Semiati menjelaskan, pihak sekolah juga menyediakan layanan antar jemput menggunakan mobil dinas bantuan dari provinsi, terutama bagi siswa yang terkendala transportasi atau orang tua yang tidak memiliki kendaraan.
Sementara untuk wilayah Ranai Kota, siswa dibagi menjadi dua kelompok agar dapat menyesuaikan dengan rute Tanjung maupun Cemaga.
Terkait pelaksanaan ujian, SLB Negeri Natuna masih menggunakan sistem manual atau luring berbasis kertas.
Namun yang membedakan, soal ujian tidak dibuat sama rata untuk seluruh siswa. Setiap guru wali kelas menyusun soal berdasarkan kemampuan dan perkembangan masing-masing anak.
“Satu kelas itu ada lima anak dan kemampuannya berbeda-beda. Jadi soalnya juga berbeda-beda karena menyesuaikan kemampuan anak. Kami menggunakan kertas seperti biasa,” jelasnya.
Semiati menerangkan, mata pelajaran yang diujikan menyesuaikan jenjang pendidikan mulai tingkat SD hingga SMA.
Untuk kelas 1 sampai kelas 3 SD, mata pelajaran meliputi Pendidikan Agama Islam dan Buddha, Bahasa Indonesia, PKN, Seni Budaya, Program Khusus, serta Muatan Lokal (Mulok).
Sementara untuk kelas 4 hingga jenjang SMA terdapat tambahan mata pelajaran seperti IPAS dan Bahasa Inggris.
Khusus pembelajaran Muatan Lokal, SLB Negeri Natuna mengangkat potensi daerah kepulauan sebagai bahan pembelajaran agar siswa memiliki keterampilan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Mulok itu kami mengambil dari potensi daerah. Karena daerah kita kelautan, berarti keterampilan tentang laut seperti memanfaatkan kerang dan sebagainya,” ungkapnya.
Sebagai pendidik, Semiati menyampaikan bahwa pelaksanaan ujian bagi anak berkebutuhan khusus memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan sekolah umum.
Menurutnya, nilai akademik bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan siswa SLB.
“Kalau sekolah umum ujian itu pasti mereka mengharapkan anak mereka berprestasi. Sedangkan kita di SLB ini mengharapkan perkembangan dan pertumbuhan mereka agar lebih mampu dan lebih mandiri, bukan hanya untuk lebih berprestasi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, hasil belajar siswa lebih banyak dilihat melalui perkembangan kemampuan yang dituangkan dalam bentuk deskripsi pada rapor.
“Nilai bukan patokan utama, makanya dalam rapor yang kita jelaskan adalah deskripsinya,” tambahnya.
Terkait kenaikan kelas, Semiati mengatakan pihak sekolah tetap memberikan perhatian khusus agar anak berkebutuhan khusus dapat terus melanjutkan proses pendidikan.
Selama siswa masih aktif mengikuti kegiatan belajar, pihak sekolah akan terus memberikan kesempatan untuk berkembang.
“Kalau kenaikan kelas, memang pada dasarnya kami tidak boleh meninggalkan kelas untuk siswa-siswa kami ini. Selagi masih aktif sekolah, insyaallah tetap akan naik,” tuturnya.
Meski begitu, sekolah tetap memiliki pertimbangan khusus apabila terdapat siswa yang tidak aktif dalam jangka waktu sangat lama.
Menurutnya, keputusan tersebut juga harus melalui komunikasi terlebih dahulu bersama orang tua siswa.
“Kalau untuk yang tidak naik kelas itu yang lebih dari dua tahun tidak aktif, dan itu pun kami konfirmasi ke orang tua dulu kenapa anaknya sampai tidak naik,” jelasnya.
Di akhir penyampaiannya, Semiati berharap kerja sama antara sekolah dan orang tua terus diperkuat dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan di SLB bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi bagaimana anak mampu menjadi pribadi yang lebih mandiri.
“Selain kami mengharapkan mereka berprestasi, kami juga berharap perkembangan dan pertumbuhan mereka agar lebih mampu dan lebih mandiri,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Dini










