“SMP Imam Syafii Boarding School Natuna menghadirkan sistem ujian berbeda dengan memadukan mata pelajaran umum dan diniyah, serta menerapkan metode musabaqah dalam ujian tahfidz untuk melatih kemampuan hafalan sekaligus mental para santri.”
Ketua Panitia Ujian Semester Genap SMP Imam Syafii Boarding School, Dwi Saputra, S.Pd., mengatakan pelaksanaan ujian semester tahun 2026 berjalan lancar dan kondusif. Selain menguji kemampuan akademik, sekolah juga menerapkan ujian tahfidz dengan metode musabaqah sebagai ciri khas pembelajaran berbasis pesantren.
NATUNA — Pelaksanaan Ujian Semester Genap SMP Imam Syafii Boarding School telah berlangsung selama kurang lebih satu minggu dan dijadwalkan berakhir pada Kamis (11/6/2026).
Sebanyak 34 santriwan dan santriwati mengikuti rangkaian ujian yang diawali dengan ujian tahfidz Al-Qur’an sebagai salah satu program unggulan sekolah.
Sebelum ujian dimulai, pihak panitia terlebih dahulu memberikan pengarahan dan sosialisasi kepada seluruh santri mengenai mekanisme pelaksanaan ujian.
Ketua Panitia Pelaksana Ujian, Dwi Saputra, S.Pd., mengatakan sejak hari pertama hingga saat ini seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan lancar.
“Sebelum ujian tentu kita berikan pengarahan kepada santriwan dan santriwati terkait bagaimana mekanismenya. Setelah mereka memahami, alhamdulillah dari awal pelaksanaan sampai sekarang ujian berjalan tertib, lancar, dan baik,” ujarnya kepada koranperbatasan.com saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Dwi, sistem pembelajaran di SMP Imam Syafii Boarding School memiliki perbedaan dengan sekolah umum lainnya karena menggabungkan pendidikan formal dan pembelajaran diniyah.
Meski demikian, pihak sekolah tetap menjalankan mata pelajaran umum sesuai ketentuan Dinas Pendidikan.
“Kami tetap ada mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Namun di sini ditambah dengan pelajaran diniyah seperti Bahasa Arab, Fikih, dan Hadis,” jelasnya.
Selain mata pelajaran tersebut, para santri juga diwajibkan mengikuti ujian tahfidz sebagai bagian dari peningkatan kompetensi keagamaan.
Menariknya, pelaksanaan ujian tahfidz di sekolah ini menggunakan metode seperti musabaqah, baik untuk ujian akhir kelas tiga maupun ujian semester genap kelas satu dan dua.
Dwi menjelaskan, metode tersebut diterapkan untuk melatih keberanian, kesiapan mental, dan kemampuan santri tampil di hadapan orang lain.
Dalam pelaksanaannya, ujian tahfidz dilakukan secara terpisah antara santri laki-laki dan perempuan.
Santri yang mengikuti ujian duduk di meja khusus di depan ruangan dengan disaksikan teman-temannya. Sementara ustaz bertugas sebagai penguji atau juri.
“Ustaz akan memberikan soal berupa sepenggal ayat yang sudah disiapkan, kemudian santri diminta melanjutkan ayat tersebut,” ungkapnya.
Untuk ujian tertulis, Dwi menerangkan jumlah soal yang diberikan berbeda sesuai dengan mata pelajaran.
Mata pelajaran umum seperti PJOK, TIK, dan Bahasa Indonesia terdiri dari 50 soal, sedangkan Matematika sebanyak 40 soal.
Sementara untuk mata pelajaran diniyah, jumlah soal menyesuaikan kebijakan guru pengampu, mulai dari 20, 30 hingga 40 soal.
“Untuk kelas satu jumlah mata pelajaran yang diuji sekitar 13 sampai 15 mata pelajaran. Sedangkan kelas dua lebih banyak, sekitar 20 mata pelajaran termasuk umum dan diniyah,” terangnya.
Dwi menyebutkan, jumlah keseluruhan peserta ujian sebanyak 34 santri. Kelas satu berjumlah 22 orang terdiri dari 13 santriwan dan 9 santriwati, sedangkan kelas dua berjumlah 12 orang terdiri dari 7 santriwan dan 5 santriwati.
Terkait sistem kenaikan kelas, pihak sekolah tetap mengikuti aturan yang berlaku dari Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna.
Meski demikian, sekolah tetap menjaga kualitas pembelajaran melalui evaluasi dan pembinaan terhadap santri yang membutuhkan peningkatan nilai.
“Kami ini baru berjalan tiga angkatan dan selama ini belum ada yang tinggal kelas. Kalau ada nilai siswa yang belum memenuhi standar, tentu akan kami berikan solusi seperti tugas tambahan atau remedial,” tegasnya.
Di akhir wawancara, Dwi berharap seluruh kerja keras, usaha, dan doa para santri selama mengikuti ujian dapat memberikan hasil terbaik.
Namun menurutnya, keberhasilan pendidikan di SMP Imam Syafii Boarding School tidak hanya diukur dari nilai akademik semata, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter.
“Bukan hanya nilai yang kami harapkan. Selama mereka berada di sini, kami ingin membentuk karakter dan akhlak mereka menjadi lebih baik, bukan hanya ketika berada di pondok, tetapi juga saat kembali ke tengah masyarakat,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Dini










