“Mahasiswa Asrama Putra Natuna di Pontianak meminta perhatian Pemerintah Kabupaten Natuna terhadap kondisi fasilitas asrama yang dinilai semakin memprihatinkan. Keluhan mengenai kerusakan fasilitas hingga biaya operasional disebut telah disampaikan sebelumnya, namun mahasiswa mengaku masih menunggu tindak lanjut.”
Perwakilan Mahasiswa Asrama Putra Natuna di Pontianak, Aris Kurniawan, menyampaikan keluhan mahasiswa kepada Redaksi koranperbatasan.com melalui pesan WhatsApp, Selasa, 1 September 2026. Ia berharap Bupati Natuna Cen Sui Lan mendengarkan aspirasi mahasiswa terkait kondisi sejumlah fasilitas Asrama Putra Natuna di Pontianak yang dinilai membutuhkan perhatian dan pemeliharaan dari Pemerintah Kabupaten Natuna.
NATUNA – Kondisi Asrama Putra Mahasiswa Natuna di Pontianak menjadi perhatian para penghuni yang tengah menempuh pendidikan di kota tersebut. Sejumlah fasilitas asrama disebut mengalami kerusakan dan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Perwakilan mahasiswa, Aris Kurniawan, mengatakan persoalan yang mereka hadapi meliputi instalasi listrik, atap kamar yang mengalami kebocoran, pipa pembuangan air hujan yang terlepas, hingga fasilitas kamar mandi dan instalasi air.
“Beberapa fasilitas di asrama sudah tidak layak guna. Kami selaku mahasiswa Asrama Putra Natuna Pontianak mendapati banyak kekurangan pada fasilitas yang ada, seperti instalasi listrik yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan,” ujar Aris dalam pesan yang disampaikan kepada Redaksi koranperbatasan.com, Selasa (1/9/2026).
Selain persoalan instalasi listrik, Aris menyebut terdapat kamar yang mengalami kebocoran akibat kerusakan pada bagian atap.
“Selain itu, terdapat kamar yang mengalami kebocoran akibat atap yang rusak, serta pipa pembuangan air hujan dari atap yang terlepas karena tidak pernah ada pemeliharaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna,” katanya.
Keluhan juga disampaikan terkait fasilitas WC dan instalasi air. Menurut Aris, sejumlah WC tidak dapat digunakan karena bak mandi mengalami kebocoran. Di beberapa bagian asrama, instalasi air juga disebut tidak menjangkau seluruh kamar mandi.
“Fasilitas WC pun banyak yang tidak dapat digunakan akibat bak mandi yang bocor dan instalasi air yang tidak menjangkau beberapa kamar mandi,” tuturnya.
Mahasiswa Tanggung Biaya Operasional
Di tengah kondisi fasilitas tersebut, mahasiswa juga mengaku harus menanggung biaya operasional tagihan air dan listrik secara pribadi.
Aris menyebut total biaya yang harus ditanggung mahasiswa mencapai sekitar Rp3 juta.
“Di sisi lain, kami juga harus menanggung biaya operasional tagihan air dan listrik secara pribadi yang totalnya mencapai Rp3.000.000,” ujarnya.
Menurut Aris, kondisi fasilitas yang mengalami kerusakan tidak hanya berdampak pada kenyamanan mahasiswa, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas mereka selama menjalani pendidikan.
Ia menilai kebocoran atap menjadi salah satu persoalan yang cukup mengganggu, terutama ketika kondisi tersebut terjadi saat mahasiswa sedang menjalani aktivitas di asrama.
“Jika plafon atau atap asrama bocor, kami mahasiswa merasa terganggu untuk masa pendidikan kami,” katanya.
Keluhan Disebut Sudah Disampaikan Sejak 2024
Aris mengatakan mahasiswa sebelumnya telah menyampaikan sejumlah persoalan tersebut kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna pada 2024 hingga 2025.
Namun, menurut dia, hingga 2026 belum ada tindak lanjut yang dirasakan mahasiswa terhadap keluhan tersebut.
“Kami telah mengajukan keluhan-keluhan di atas kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna pada tahun 2024-2025, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut sama sekali,” ujar Aris.
Ia mengatakan, pada akhir 2025 Pemerintah Kabupaten Natuna sempat menjanjikan akan menindaklanjuti persoalan fasilitas asrama tersebut.
Namun, hingga 2026, mahasiswa mengaku masih menunggu realisasi dari janji tersebut.
“Pada akhir tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Natuna sempat menjanjikan akan menindaklanjuti keluhan tersebut, tetapi hingga tahun 2026 saat ini, keluhan tersebut seolah hilang ditelan waktu,” katanya.
Aris berharap Pemerintah Kabupaten Natuna tidak mengabaikan kondisi asrama yang menjadi tempat tinggal mahasiswa Natuna selama menempuh pendidikan di Pontianak.
“Kami mahasiswa Natuna Pontianak meminta kepada pemerintah daerah jangan menutup mata untuk Asrama Mahasiswa Putra Natuna Pontianak. Kondisi yang saat ini dialami mahasiswa dengan fasilitas yang ada sangat memprihatinkan,” tegasnya.
Minta Pemerintah Jangan Menunggu Kondisi Semakin Parah
Menurut Aris, perhatian pemerintah diperlukan sebelum kondisi fasilitas asrama semakin memburuk dan berpengaruh terhadap proses pendidikan mahasiswa.
“Kami berharap pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Natuna, jangan hanya diam dan menutup mata dengan keadaan putra daerah yang menempuh pendidikan di Kota Pontianak,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada kepala daerah agar kondisi asrama segera mendapatkan perhatian.
“Kami juga dari mahasiswa Natuna Pontianak berpesan kepada kepala daerah, khususnya Bupati, jangan sampai asrama tersebut semakin parah hingga mengakibatkan proses pendidikan kami menjadi terganggu,” katanya.
Bagi mahasiswa, keberadaan asrama merupakan salah satu fasilitas penting bagi putra daerah yang melanjutkan pendidikan di luar Natuna. Karena itu, mereka berharap persoalan fasilitas tidak dibiarkan berlarut-larut.
Mahasiswa Minta Instansi Terkait Turun Langsung
Selain meminta tindak lanjut, mahasiswa juga berharap instansi terkait datang langsung ke Asrama Putra Mahasiswa Natuna di Pontianak untuk melihat kondisi fasilitas yang mereka keluhkan.
“Kami berharap aspirasi kami dari mahasiswa bisa ditindaklanjuti dan berharap instansi terkait untuk mengunjungi asrama mahasiswa Natuna Pontianak saat ini,” ujar Aris.
Ia secara khusus menyampaikan harapan kepada Bupati Natuna Cen Sui Lan agar bersedia mendengarkan aspirasi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Pontianak.
“Dengan hormat, kami mahasiswa Natuna Pontianak kepada Bupati Natuna Cen Sui Lan, mendengar suara lirih kami dari mahasiswa,” tutur Aris.
Menurutnya, aspirasi tersebut disampaikan bukan sekadar sebagai keluhan, tetapi sebagai permintaan agar pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap kondisi putra daerah yang sedang menempuh pendidikan di luar Natuna.
Aris berharap pesan yang disampaikannya dapat membuka perhatian Pemerintah Kabupaten Natuna terhadap kondisi Asrama Putra Mahasiswa Natuna di Pontianak.
“Sekian dan terima kasih. Dengan pesan singkat ini agar Pemerintah Kabupaten Natuna membuka mata dan mendengar jeritan kami,” pungkasnya.
Laporan: Red










