KETIKA harga-harga kebutuhan pokok terus merayap naik, dan pemerintah perlahan mengurangi subsidi di berbagai sektor, rakyat kembali menjadi tameng pertama terhadap badai ekonomi.
Narasi efisiensi anggaran, rasionalisasi belanja, dan pengetatan fiskal kerap menghiasi podium pejabat. Namun, bagi masyarakat bawah yang terasa bukan narasinya, melainkan dampaknya.
Subsidi energi, pangan, dan bantuan sosial yang semakin menyusut jelas meninggalkan celah besar dalam daya tahan ekonomi rumah tangga.
Di banyak daerah perbatasan dan pelosok, subsidi bukan sekadar bantuan sementara, tapi menjadi tulang punggung bertahan hidup. Maka ketika itu digeser dengan alasan penghematan, rakyat dipaksa mencari cara sendiri untuk bertahan, tanpa bekal cukup.










