KETIKA jargon efisiensi anggaran kembali menggema dari pusat kekuasaan, rakyat di akar rumput hanya bisa menarik napas panjang. Janji-janji reformasi fiskal, subsidi tepat sasaran, dan penguatan daya beli seakan hanya tinggal dalam pidato-pidato seremonial.
Sementara itu, beban hidup terus merayap naik: harga bahan pokok melonjak, tagihan listrik dan air membengkak, sementara pendapatan mayoritas tetap stagnan.
Kondisi ini bukan sekadar fenomena temporer. Ia adalah cerminan dari ketimpangan struktural yang semakin nyata. Ketika subsidi menyusut dan program bantuan disederhanakan, siapa yang paling terdampak?
Jawabannya bukan mereka yang duduk di ruang-ruang ber-AC membahas makroekonomi, melainkan mereka yang setiap harinya harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya sekolah anak.
Banyak kebijakan ekonomi yang disusun dengan dalih efisiensi dan penghematan, namun implementasinya sering kali tidak mempertimbangkan realitas hidup rakyat kecil. Beban hidup tidak pernah benar-benar diselesaikan, hanya dipindahkan: dari negara ke masyarakat.










